<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Benzein4</title>
	<atom:link href="http://benzein4.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://benzein4.wordpress.com</link>
	<description>Menyeberang Bersama Dengan Selamat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Jul 2009 14:10:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='benzein4.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Benzein4</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://benzein4.wordpress.com/osd.xml" title="Benzein4" />
	<atom:link rel='hub' href='http://benzein4.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Cinta itu Gila !</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/cinta-itu-gila/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/cinta-itu-gila/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 06:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASYWAAQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[(2)  Tolaklah  aku  sebisamu  ….  kau  pasti  tetap  kudapat  ! Apa jadinya bila seseorang cintanya ditolak mentah-mentah ?. Bagi yang berjiwa besar, mungkin ia masih akan terus mencoba, lagi dan lagi sampai tujuannya tercapai atau … mundur teratur, balik kanan … bubar jalan !. Tetapi buat mereka yang berjiwa kerdil dan suka memaksakan kehendak, bisa-bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=166&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>(2)   Tolaklah  aku  sebisamu  ….  kau  pasti  tetap  kudapat  ! </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa jadinya bila seseorang <strong><em>cintanya ditolak mentah-mentah</em></strong> ?. Bagi yang berjiwa besar, mungkin ia masih akan terus mencoba, lagi dan lagi sampai tujuannya tercapai atau … mundur teratur, balik kanan … bubar jalan !. Tetapi buat mereka yang berjiwa kerdil dan suka memaksakan kehendak, bisa-bisa “pemeo jalanan” : <strong><em>Bila cinta ditolak, dukun segera bertindak</em></strong> akan jadi satu-satunya alternatif. Wow … taakuut !?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sebaris syi’r anonim berikut ini mungkin pernah terbaca dan kemudian meng-inspirasi mereka-mereka yang begitu sangat gigih dalam merengkuh cita-cita cintanya hingga titik nafas penghabisan :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Laisa  ‘l-hijābu  bi-muqshin  ‘an-ka  lī  amalan </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> inna  ‘s-samā-a  turojjā  hīna  tuhtajabu</em></strong><sup> 1</sup>)<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Jangan kau kira penghalang itu akan dengan mudah menyurutkan tekadku  ……. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> sedangkan langit yang terhalang mendung malah membuat orang makin penuh harap</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Iiih … nékat juga ya orang ini. Tetapi itulah cinta yang bila telah merasuki jiwa seseorang, maka dunia jadi tidak punya arti apa-apa dan ia dapat berbuat apa saja, sesukanya. Coba simak lagi dua potong syi’r anonim  berikut ini :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Hawā-ka  atānī  wa  huwa  dhoifun  u‘izzu-hu </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> fa-ath‘amtu-hu  lahmī  wa  asqoitu-hu  damī</em></strong><sup> 2</sup>)<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Buai cintamu itu telah merasuki diriku bak seorang tamu yang harus kumuliakan  ……. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> maka kuberikanlah ia makan dan minum berupa daging dan darahku sebagai suguhan</em><sup> </sup><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Anta  dā-’ī  wa  fī  yadai-ka  dawā-’ī </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> yā  syifā-‘ī  mina  ‘l-jawā  wa  balā-’ī </em></strong><sup> 3</sup>)<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Engkaulah penyebab semua sakitku, di tanganmulah kulihat obat penawar untukku  … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> wahai engkau, penyembuhku dan penyengsaraku dengan cinta ini </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Iiih … jadi makin serem aja ya. Ya iya lah, kata orang bijak : <strong><em>“Love is Blind” </em></strong><em>( Cinta itu Buta )</em>, sedangkan <em>Buta</em> ( <em>raksasa</em> ) itu kan suka menyantap manusia, jadi <strong><em>“Cinta itu Suka Menyantap Manusia”</em></strong>. Maka berhati-hatilah dengan yang namanya cinta !.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Catatan</span> :</p>
<p style="text-align:justify;"><em><sup>1</sup></em><em>)  dari kitab <strong>al-Balāghoh al-Wādhihah,</strong> Mushthofa al-Jārim, Cairo.<strong> </strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><sup>2-3</sup></em><em>)dari kitab <strong>Mīzānu ‘dz-dzahab fī Shinā‘ati syi‘ri ‘l-‘arob,</strong> As-sayyid Ahmad al-Hāsyimī, Beirut, 1979<strong>. </strong> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>(3)  Cé  Él  Bé  Ka  ….  apakah  engkau  benar-benar  ada  ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Falsafah <strong><em>Oude Liefde roest niet</em></strong> ( Cinta Lama tak pernah padam ) rupanya amat setia dianut oleh para penduduk negerinya<strong> Van Gogh</strong> sama halnya dengan orang-orang sekampung <strong>William Shakespeare</strong> yang meyakini kepercayaan <strong><em>First Love never dies</em></strong> ( Cinta Pertama tak kan pernah mati ) ini dalam hidup mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Di kita kelihatannya sama saja, bahkan dua stasiun tv swasta sampai bersaing dengan mengangkatnya menjadi acara <strong><em>reality show</em></strong> unggulan mereka meski bukan di tayangan <em>prime time</em>. Yang satu mengusung tema <strong><em>Cinta Lama Bersemi Kembali </em></strong>( <strong><em>CLBK</em></strong> ), sedang yang satunya lagi memasang judul <strong><em>First Love</em></strong>. Bagaimana dengan kawan-kawannya <strong>Abu Nuwas</strong>, adakah mereka juga menganut mazhab indah yang satu ini ?. Barangkali sepotong sajak <strong><em>Lāmiyah</em></strong> ini bisa menjawabnya : <em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Naqqil  fu’āda-ka  haitsu  syi’-ta  mina  ‘l-hawā </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> wa  mā  ‘l-hubbu  illā  li ‘l-habībi  ‘l-awwali</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Biarkanlah hatimu berkelana kemana ia suka untuk menebar cintanya … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> ketahuilah bahwa <strong>cinta sejati </strong>akan selalu kembali pada <strong>kekasih pertama</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tampaknya <strong>John Lennon</strong> dan <strong>Paul McCartney</strong> ( dua pentolan <strong><em>The Beatles</em></strong> ) merasakan benar “jiwa” sajak berbahasa arab diatas, sehingga membuat mereka harus menuangkannya ke dalam lirik lagu sendu mereka yang bertajuk “<strong><em>Long and Winding Road</em></strong>” ini :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>The long and winding road  …………..</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> It <span style="text-decoration:underline;">always</span> leads me here  …     <span style="text-decoration:underline;">leads me to your door</span></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Jalan panjang yang berkelak-kelok itu …………… </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> <strong>Selalu saja</strong> membawaku kembali <strong>kesini … </strong>kembali <strong>ke pintu hatimu</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Para suami yang mendapat istri atau istri yang dinikahi suami bukan karena cinta pertama masing-masing, tak perlulah harus merasa terlalu resah atau was-was karena takut akan kehilangan pasangannya, karena dua alasan. Pertama : survey membuktikan bahwa tidak semua cinta pertama memiliki bobot kesejatian hakiki seperti yang tercermin dalam dua kata bijak diatas sehingga mampu bangkit kembali dari alam sana. Kedua : ada sebuah “dogma” kuat yang sampai saat ini masih taat dianut oleh kebanyakan kita, yaitu bahwa “<strong><em>Mencintai</em></strong><em> itu tidak selalu harus <strong>Memiliki</strong></em>”. Aman … kan ?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(4)   Cinta  bisa  bikin  Mabuk,  …  setengah  Gila,  atau  …  Gila beneran  ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang tua dulu membandingkan kita yang <strong><em>sedang Jatuh Cinta </em></strong>itu bagaikan orang yang<strong><em> sedang Mabuk Kepayang</em></strong>. Kepayang adalah sejenis buah beracun dari pohon besar yang hanya tumbuh di hutan-hutan Sumatera dan Kalimantan, yang dapat membuat pemakannya menjadi <strong>limbung</strong> dan <strong>mabuk </strong>serta bertingkah bak orang <strong>gila</strong>. Dan cinta itu ya katanya begitu, dapat membuat kita limbung, mabuk bahkan mungkin “gila”. <em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em>Jadi tidak heran bila seorang penulis lirik lagu sekaliber <strong>Ibrahim Nagi</strong>-pun, sampai harus ikut-ikutan menuangkan “<em>kegilaan cinta</em>” ini kedalam lagu khususnya untuk <strong>Ummu Kultsum</strong> ( <strong>Diva</strong> Penyanyi Arab ) yang berjudul <strong><em>“Al-Athlāl</em></strong>” ( <strong><em>Ruins </em>/<em> Puing-puing</em></strong> ) yang melegenda itu, begini :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Hal  ro’ā  ‘l-hubbu  <span style="text-decoration:underline;">sukārō</span> mitsla-nā </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> kam  banai-nā  min khoyālin  haulanā</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> wa  masyai-nā  fī  thorīqin  muqmirin </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> ta‘ibu ‘l-farhatu  fīhi  qoblanā</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> wa  dhohik-nā  dhohka  ‘th-thiflaini  ma‘an </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> wa ‘adaunā  fa-sabaq-nā  zhilla-nā</em></strong><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> Adakah <strong>cinta</strong> pernah  melihat orang-orang yang <strong>mabuk</strong> seperti kami ini … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> yang terus membangun angan-angan muluk dan khayalan tinggi </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> yang terus telusuri jalan-jalan yang temaram oleh sinaran rembulan</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> penuh dengan fatamorgana kebahagiaan tak berujung</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> yang tertawa renyah bak dua orang bocah yang kegirangan</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> lalu berpacu lari, hanya mengejar bayang-bayang kami sendiri …. ?</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Rupanya Cak <strong>Gombloh</strong> ( penulis lagu sekaligus penyanyi nyentrik ) itupun tak mau ketinggalan untuk ikut ambil bagian. Dalam lirik lagu <strong><em>Setengah Gila</em></strong> dari <strong><em>Trilogi </em></strong>lagu-lagu “<strong>Gila</strong>”nya ( <strong><em>Setengah Gila, Gila </em></strong><em>dan<strong> Semakin Gila</strong></em> ) ia menulis tentang ulah cinta itu begini :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ada yang sumpah langit dan bumi</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Katanya cinta setengah mati</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Datang apél setiap hari</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Bagai kiamat kan datang esok pagi</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Bercinta super</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Melengket bak kue lemper</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Itulah <span style="text-decoration:underline;">cinta</span> yang <span style="text-decoration:underline;">bikin</span> ulah</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Tua atau remaja</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Gadis atau jejaka</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> <span style="text-decoration:underline;">Setengah Gila</span>.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bahkan <strong>John Lennon</strong> dan <strong>Paul McCartney</strong> ( <strong><em>The Beatles</em></strong> ) sampai memimpikan sebuah “kegilaan khayali” unik dan aneh yaitu kalau mungkin agar satu pekan yang sekarang cuma tujuh hari itu bisa menjadi delapan hari ( dan itupun masih kurang cukup ) agar keduanya dapat mencurahkan se-abrek-abrek cinta mereka kepada sang pujaan dengan sepuasnya. Itu mereka tulis dalam lagu “<strong><em>Eight days a week</em></strong>“-nya :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Eight  days  a  week  is  not  &#8230;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> enough  to  show  I  care</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> <strong>Delapan  hari  sepekanpun</strong> masih  <strong>belum</strong> … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> <strong>cukup</strong> untuk menunjukkan  betapa aku  menyayangimu</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Wow, luar biasa dan begitu dahsyatnya …. Cinta !. Dan agar kita tidak ikut-ikutan menjadi gila, maka tulisan ini terpaksa harus disudahi saja sampai disini. Gila !</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=166&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/cinta-itu-gila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mari Bercermin Sejenak</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/mari-bercermin-sejenak/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/mari-bercermin-sejenak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 05:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA['IBAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[(1)  K K N  ….  ?  Hayhāta  …  Hayhāta,  No  Way  …  Abadan  ! Segenap anggota klan Banī Makhzūm menjadi sangat resah dan gerah akibat sebuah kasus pencurian yang dilakukan oleh salah seorang wanita dari klan mereka yang ancaman hukumannya adalah potong tangan. Kalau hukuman ini benar-benar sampai dilaksanakan, maka akan merupakan sebuah aib, cela [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=158&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>(1)  K K N  ….  ?  Hayhāta  …  Hayhāta,  No  Way  …  Abadan  ! </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> Segenap anggota klan <strong>Banī Makhzūm</strong> menjadi sangat resah dan gerah akibat sebuah kasus pencurian yang dilakukan oleh salah seorang wanita dari klan mereka yang ancaman hukumannya adalah <em>potong tangan</em>. Kalau hukuman ini benar-benar sampai dilaksanakan, maka akan merupakan sebuah aib, cela dan nista besar yang akan menjatuhkan martabat serta nama baik klan sebesar dan seterhormat <strong>Banī Makhzūm</strong> yang merupakan kumpulan dari orang-orang kaya pemilik modal besar dan pengusaha kakap, yang salah seorang tokohnya adalah <strong>Al-Mughīroh bin</strong> <strong>Abdillāh</strong>, kakek dari <strong>Khōlid bin al-Walīd</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah keputusan akhirnya diambil dalam sebuah rapat darurat terbatas. Mereka akan mengutus <strong>Usāmah bin Zaid</strong>, seorang yang mereka kenal amat dekat dengan <strong>Rosūlullōh</strong> <strong><em>‘alai-hi ‘s-sholātu wa ‘s-salām</em></strong> untuk memintakan keringanan atau pengecualian hukum pada <strong>Rosūlullōh</strong> untuk kasus yang satu ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar permintaan “klasik” seperti ini <strong>Rosūlullōh</strong> langsung menjawab lugas, tegas, tandas dan tuntas begini : <strong><em>“Atasyaffa’u fī haddin min hudūdi ‘lLāh ? Innamā ahlaka ‘l-ladzīna min qobli-kum, inna-hum kānū idzā saroqo fī-himu ‘sy-syarīfu tarokū-hu, wa idzā saroqo fī-himu ‘dh-dho’īfu aqōmū alai-hi ‘l-hadda. Wa aymu ‘lLōhi, lau anna Fāthimata binta Muhammadin saroqot, la-qotho’tu yada-hā / la-qotho’a Muhammadun yada-hā !” </em></strong><em>( Apakah pantas aku memberi keringanan pada hukuman yang telah diputuskan oleh Allah ? Ketahuilah, sesungguhnya hancurnya orang-orang yang terdahulu itu akibat ulah mereka yang selalu membebaskan hukuman pencurian yang dilakukan oleh orang-orang besar mereka, akan tetapi tetap melaksanakan hukumannya bila pencurian itu dilakukan oleh orang-orang kecil. Demi Allah, andaikata <strong>Fatimah</strong> <strong>putri Muhammad</strong> itu mencuri, pastilah akan aku potong tangannya / pastilah Muhammad akan memotong tangannya ! )</em>.<em> </em>Wow super dahsyat. Ini baru pemimpin yang adil ! Bila ada yang berani mengikuti jejak ini, silakan segera mendaftarkan diri ke KPK. Ditunggu !<em> <strong> </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(2)  The  other  side  of  ….  Hārūn ar-Rasyīd </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> <strong>Hārūn ar-Rasyīd</strong>, sebuah nama yang tidak terlalu asing di telinga setiap orang. Banyak diantara kita mengenalnya sebagai khalifah kelima dari dinasti Abbasiyyah yang pada masa ke-khilafahan-nyalah, Islam mencapai salah satu puncak kejayaannya terutama di bidang ilmu pengetahuan. Tidak sedikit juga yang menganggapnya sebagai sosok khalifah yang memiliki “gaya” dalam kehidupan keduniaannya. Tapi banyak sekali dari kita yang tidak tahu, bahwa &#8211; di luar semua itu &#8211; beliau adalah tetap sebagai seorang anak manusia yang tidak pernah lupa pada pemenuhan sisi dahaga kerohanian dirinya. Karena itu beliau sangat sering meminta nasihat spiritual dari orang-orang sholeh yang berada di sekelilingnya. Berikut adalah salah satunya …… the other side of <strong>Hārūn ar-Rasyīd</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>“ ’Izh-ni, ayyuha ‘sy-syaikh !</em></strong><em>“ ( Tolong nasihati hamba, wahai tuan guru !</em> ), katanya suatu hari. <em>“<strong>Yā Hārūn, law dāmat li-ghoiri-ka, mā washolat-ka !</strong>“ </em> <em>( Wahai <strong>Harun</strong>, andaikata sebuah kekuasaan itu bisa abadi di tangan seseorang, tentu kekuasaan itu tidak berada di tanganmu sekarang  !</em> ). <strong><em>“Zid-ni, ayyuha ‘sy-syaikh !</em></strong><em>“ ( Tambahkan lagi, wahai guru )</em>, pinta sang khalifah. Orang sholeh itupun melanjutkan : <em>“<strong>Yā Hārūn, til-ka qushūru-hum, wa hādzi-hi qubūru-hum !</strong>“</em> <em>( Tengok wahai <strong>Harun</strong>, itu disana adalah istana-istana megah yang pernah mereka tempati dulu, dan di sebelah sini itu adalah kubur-kubur sepi yang kini harus mereka huni )</em>,<em> “<strong>Kafā bi ‘l-mauti wā’izhō !</strong>“ ( Jadikanlah kematian itu sebagai satu-satunya nasihat yang paling ampuh ). </em>Mendengar nasihat ini sang khalifahpun menangis tersedu sejadi-jadinya sehingga jenggotnya basah oleh kucuran deras air matanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>“Ayyuha ‘sy-syaikh, a ‘alai-ka dainun fa-naqdhī-hi ‘anka !</em></strong><em>“</em> <em>( Maaf tuan guru, apakah barangkali tuan guru memiliki hutang, biar izinkan kami yang akan melunasinya !</em> ), <strong>Harun</strong> mencoba menawarkan bantuan kepada tuan syeikh sebagai tanda terima kasihnya atas semua nasihat beliau, yang dijawab : <strong><em>“Yaqdhī-hi ‘annī man huwa aqdaru ‘alā qodhō-i-hi min-ka !</em></strong><em>“</em> <em>( Hutang-hutangku andai katapun ada, akan dilunasi oleh <strong>Dia</strong> yang lebih mampu melunasinya dari pada kamu ). </em>Lalu <strong>Harun</strong> mencoba lagi tawaran lain, katanya : <strong><em>“Fa-khudz min mālī mā yakfī-ka rizqon la-ka wa li-‘iyāli-ka !</em></strong><em>“</em> <em>( Begini saja, ambil dari hartaku seberapapun kau butuh untuk keperluan hidupmu dan sanak keluargamu ! ). </em>Mendengar tawaran istimewa <strong>Harun</strong> ini sang syeikh cuma tersenyum saja, lalu berkata : <em>“<strong>Waiha-ka yā Hārūn, a tazhunnu anna ‘lloha yarzuqu-ka wa yansā-nī ?</strong>!“ ( Jangan keterlaluan begitu wahai <strong>Harun</strong>, apakah kau kira Alloh itu <strong>memberi rizki hanya untukmu saja</strong> dan <strong>melupakanku</strong>, begitu ?! )</em>. <strong>Harun</strong>pun terdiam seribu bahasa. Oh … andaikata di zamanku ini ada seribu <strong>Harun</strong> dan seribu <strong>Syeikh</strong> saja yang seperti ini …, oh betapa ……… !  Betapa apa ? Entahlah !</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(3)  Dua  nabi  yang  raja  …  yang  pandai  ber-SYUKUR </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> Nabi<strong> Daud ‘<em>alai-hi ‘s-salām</em></strong>, pernah merasa belum sempurna dan tuntas dalam mengungkapkan rasa syukurnya kepada <strong>Allah <em>jalla wa ‘alā </em></strong>atas segala ni’mat yang beliau terima sebagai seorang nabi sekaligus seorang raja yang amat kaya, perkasa dan berkuasa. Suatu ketika beliau sempat bermunajat : <strong><em>“Yā Robb, fa-arinī akhfā ni’ami-ka ‘alayya. Qōla : yā Dāwūda, tanaffas. Fa-tanaffasa Dāwūdu, fa-qōla ta’āla : man yuhshī hādzi-hi ‘n-ni’mata al-laila an-nahāro ?” </em></strong><em>( Wahai Tuhan, tunjukkanlah ni&#8217;mat-Mu yang paling tersembunyi yang telah Engkau berikan kepadaku yang mungkin tak pernah kusadari dan belum sempat kusyukuri sepantasnya. Allah bertitah : wahai <strong>Daud, </strong>tariklah nafasmu. <strong>Daud</strong>pun melakukannya, lalu Allah bertanya : siapakah &#8211; selama ini &#8211; yang sempat menghitung besarnya ni’mat ( bernafas ) ini sehari semalam, lalu mensyukurinya ? ). </em><strong>Daud</strong>pun terhenyak diam karena malu. Dan mestinya kita …… juga, kan ?</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, <strong>Sulaiman <em>‘alai-hi ‘s-salām</em></strong> putra <strong>Daud </strong>yang juga seorang nabi dan raja yang amat berkuasa dan menguasai dunia jin, kekuatan angin dan bahasa binatang itu, diriwayatkan bahwa beliau selalu makan <strong><em>sya’īr </em></strong><em>( gandum murah )</em> setiap hari dan tidak pernah sampai kenyang. Untuk keluarganya sendiri, beliau beri makan <strong><em>khusykār </em></strong><em>( tepung jagung kasar ), </em>sedang untuk para <strong>dhu’āfa’</strong> dan orang-orang miskin yang tinggal dan berada di sekelilingnya selalu beliau beri makan <strong><em>darmak</em></strong><em> ( tepung putih halus ). </em>Semua hal “aneh” ini membuat<em> </em>para pembantu dan orang-orang dekat <strong>Sulaiman </strong>jadi bertanya-tanya mengapa beliau melakukan ini semua, padahal beliau adalah seorang raja yang juga nabi. <strong>Sulaiman</strong>pun menjawab : <strong><em>“Akhōfu in syabi‘tu … an ansa ‘l-jiyā‘ !</em></strong><em>“</em> <em>( Aku cuma khawatir, bila aku selalu kenyang … aku jadi lupa pada orang-orang lapar yang tak bisa makan karena kepapaannya ). </em>Oh … andaikata orang-orang yang seperti <strong>Sulaiman </strong>dan <strong>Daud</strong> <strong><em>‘alai-hima ‘s-salām</em></strong> ini masih bisa kutemukan di kampungku. Oh betapa ………… !  Betapa apa ? Entahlah !<strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=158&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/mari-bercermin-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senyum dari Madrasah</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/154/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/154/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 05:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[NUKAT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[(13)   Ada   “ setan ” dari   “ karet “ di  …  roda ? “Daripada ngapalin “mahfūzhōt” mendingan juga ngumpulin “mahfazhōt”, omel si Salim dalam hati selepas mengumpulkan hasil ulangan tertulis “mahfūzhōt”-nya di meja guru. Dari dahulu, dia memang sangat tidak suka dengan semua pelajaran yang berbentuk hafalan, makanya iapun langsung melampiaskan kekesalannya tentang ulangan hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=154&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>(13)   <em>Ada   “ setan ”</em> dari   “ <em>karet “ </em>di  …  roda<em> ?</em> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> <em>“Daripada</em> <strong><em>ngapalin</em></strong> “<strong><em>mahfūzhōt</em></strong><em>”<strong> </strong>mendingan<strong> </strong>juga<strong> ngumpulin </strong></em>“<strong><em>mahfazhōt”</em></strong><em>, omel</em> si <strong>Salim</strong> dalam hati selepas mengumpulkan hasil ulangan tertulis “<strong><em>mahfūzhōt</em></strong><em>”-</em>nya di meja guru. Dari dahulu, dia memang sangat tidak suka dengan semua pelajaran yang berbentuk hafalan, makanya iapun langsung melampiaskan kekesalannya tentang ulangan hari ini lewat <em>omelan</em> tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada kesempatan pelajaran “<strong><em>mahfūzhōt</em></strong><em>”</em> berikutnya, ia dipanggil guru ke depan kelas dan mendapat marah. Apa pasal ? Selain nilainya “jeblok” iapun dimarahi karena menuliskan “omelan” kesalnya di lembar jawaban ulangannya itu. Disamping itu sang guru juga merasa dilecehkan karena jawaban-jawaban yang dibuat <strong>Salim</strong> sudah termasuk kategori “mempermainkan” pelajaran sekaligus guru yang mengajarnya. “<em>Salah satu contohnya adalah : </em>soal isian nomor 7 yang berbunyi<em> “<strong>Al-‘ajalatu min al-……. “. </strong>Jawaban yang benar seharusnya<strong> </strong>adalah <strong>“mina ‘s-syaithōn”</strong>, tetapi<strong> </strong>kamu mengisinya dengan jawaban</em> <strong><em>“mina ‘l-maththōt”</em></strong><em>, jadi apa maksudmu dengan semua ini, <strong>Salim</strong> ?!”, </em>hardik sang guru dengan agak marah.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em>Dengan entengnya si <strong>Salim </strong>menjawab begini : “<em>Pak, apa yang salah dengan jawaban “<strong>al-‘ajalatu mina ‘l-maththōt”</strong></em> ( roda / ban itu terbuat dari karet ), <em>roda / ban memang terbuat dari karet kan pak ?”. “Iya, betul, tetapi</em> <em>“<strong>al-‘ajalatu</strong></em>” <em>disini artinya adalah <strong>terburu-buru</strong>,<strong> </strong>bukannya<strong> roda </strong>atau<strong> ban</strong>, <strong>Salim</strong></em><strong> </strong>!<em>, dan arti lengkap pribahasa itu adalah :</em> ”<strong>Terburu-buru</strong> adalah salah satu sifat setan”.<em> Lalu apa pula hubungannya antara <strong>mahfūzhōt</strong> dengan <strong>mahfazhōt</strong> ?”. </em><strong>Salim</strong><em> </em>sebenarnya sudah tidak mau menjawab lagi, tetapi karena takut iapun menjawabnya juga : “<em>Kan menghafalkan</em> <strong><em>mahfūzhōt</em></strong> <em>itu bikin otak kita jadi pusing … pak, lebih baik mengumpulkan</em> <strong><em>mahfazhōt</em></strong> <em>( dompet ) sajalah !”. </em>Tapi ngomong-ngomong <strong><em>ngumpulin dompet</em></strong> itu maksudnya apa ya ?  <strong>Koleksi</strong> dompet atau <strong>Korek isi</strong> dompet orang ya ? Au .. ah, gelap !  <em> </em> <em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(14)   Pelajaran<em> “ at-tash-rīf ”</em> yang  serasa  …  cokelat. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> Masih ingat atau pernah dengar tentang pelajaran “<strong><em>at-tash-rīf</em></strong><em>”</em> yang diajarkan di madrasah-madrasah model lama ?<em>. </em>Itu lho, ( di kita hanya terbatas pada ) pembahasan<em> </em>mengenai pengubahan <strong><em>fi’l</em></strong> ( <em>kata kerja</em> ) sesuai dengan subjeknya yang berupa <strong><em>dhomīr</em></strong>/<strong><em>dhomā-ir</em></strong> (<em> kata ganti </em>seperti <strong><em>huwa</em></strong> s/d <strong><em>nahnu</em></strong> ). Sebuah pelajaran yang amat membosankan dan tidak pernah di-<em>link and match</em>-kan dengan pelajaran-pelajaran bahasa arab lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Tapi aku malah seneng lho belajar</em> <strong><em>tash-rīf, </em></strong><em>karena <strong>romantis</strong> !”, </em>kata <strong>Hadi<em> </em></strong>suatu kali pada teman sekelasnya, <strong>Komar</strong>. “<strong><em>Romantis</em></strong><em> dari Hongkong ?</em>”, tukas lawan bicaranya. “<em>Eeh … nggak percayaan ya kalo dibilangin, ini contohnya : <strong>Fi’l</strong> <strong>mādhi  “kataba” </strong>( menulis )<strong> </strong>kalo di-<strong>tash-rīf</strong>-in kan begini : </em><strong>huwa <span style="text-decoration:underline;">kataba</span>, humā <span style="text-decoration:underline;">katabā</span>, hum <span style="text-decoration:underline;">katabū</span>, hiya <span style="text-decoration:underline;">ke tebet</span> … “</strong><em>.  “Stop … stop ! Ngaco aja kamu. Mana ada bahasa arab </em><strong>hiya</strong><em> </em><strong><span style="text-decoration:underline;">ke tebet</span></strong><em>, yang ada juga </em><strong>hiya <span style="text-decoration:underline;">katabat</span></strong><em>. Tunggu … aku ingat sekarang, pasti </em><strong>hiya</strong><em> ( dia ) disitu </em>… <em>maksud kamu adalah</em> si<em> </em><strong>Nurul</strong><em> ya, yang sering main </em><strong>ke Tebet</strong><em>, ke rumah uwa’nya yang tetanggaan dengan rumahmu, iya … kan ?, dasar playboy !”. “Itulah <strong>romantis</strong>nya belajar</em> <strong><em>tash-rīf.</em></strong><em> Ngiri … ya kamu ?<strong>”</strong>. </em>Memang agak aneh juga ya, tetapi begitulah. Malah menurut <strong>Gombloh </strong>yang penyanyi sekaligus pengarang lagu<strong> </strong>itu :<strong> </strong><em>“Bila <strong>cinta</strong> sudah <strong>melekat</strong>, <strong>pelajaran</strong></em> <strong><em>tash-rīf</em></strong><em>-pun</em><strong> </strong><em>serasa<strong> cokelat</strong></em>”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>(15)   Tak  boleh  ada  <em>dusta </em>dalam  pelajaran<em> “ at-tash-rīf ”</em>. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> Lain lagi ceritanya dengan <strong>Halimah</strong> ( namanya seperti jenis virus ya : H5h ). Siswi gembul yang senang nongkrong di kantin ini paling tidak suka dengan pelajaran <strong><em>tash-rīf</em></strong> ( juga pelajaran-pelajaran yang lainnya ) kecuali <em>seni suara</em> dan <em>pkk</em> yang ada praktek masaknya.       <em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari saat pelajaran <strong><em>tash-rīf</em></strong> berlangsung, tokoh kita ini mendapat giliran untuk men-<strong><em>tash-rīf</em></strong>-kan sebuah <strong><em>fi’l mādhi</em></strong> yang boleh ia pilih sendiri <strong><em>fi’l</em></strong>-nya. Maka pilihannyapun jatuh pada <strong><em>“akala” </em></strong><em>( makan ) </em>sebagai <strong><em>fi’l</em></strong> favoritnya. Lalu diapun mulai melantunkan senandungnya dengan lantang : <strong>Huwa <span style="text-decoration:underline;">akala</span>, humā <span style="text-decoration:underline;">akalā</span>, hum <span style="text-decoration:underline;">akalū</span>, hiya <span style="text-decoration:underline;">akalat</span>, humā <span style="text-decoration:underline;">akalatā</span>, hunna <span style="text-decoration:underline;">akalna</span> </strong>… dst.<strong> </strong>Tetapi ketika sampai pada bagian sebelum akhir yaitu pada dhomir “<strong>anā</strong>”, ia berhenti, terdiam dan diam terus. Sang gurupun lantas bertanya mengapa ia berhenti, dan dengan entengnya teman kita ini menjawab : <em>“Pak, berbohong itu kan dosa ya ?, dan aku paling tidak suka berbohong”</em>. <em>“Iya benar, lalu apa hubungannya dengan <strong>tash-rīf</strong>-mu ini ?, </em>sang guru balik bertanya. <em>“Pak, <strong>anā</strong> <strong>akaltu </strong>itu<strong> </strong>artinya kan : <strong>aku (sudah) makan</strong>, lalu kalau aku ucapkan kalimat tersebut …  itu sama saja aku berbohong. Sungguh mati pak, dari pagi aku belum makan kecuali cuma sarapan nasi uduk doang !”. </em>Seisi kelaspun riuh dengan gelak dan tawa, kecuali kawan kita ini. Ia mendapat hukuman dengan harus menulis kalimat <strong><em>“Akal-tu ‘s-samakata hattā ro’sihā”</em></strong> <em>( Aku makan ikan itu sampai bagian kepalanya )</em> sepapan tulis penuh.<em> Yā bint, dzambak ‘alā bathnak eh … ‘alā gambak ba-ā. But it doesn’t matter &#8230;, you’re so amazing, gal ! </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em>
</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(16)   <em>“ Fi’l ”</em> <em> </em>terpendek  di  dunia<em> </em> ini  bisa  masuk  MURI  ‘nggak  ya<em> …</em> ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> Dua siswa terbaik dari kelas 3 sebuah ponpes yang mulai “<em>modern</em>” ( karena siswa-siswinya diwajibkan berkomunikasi harian hanya dengan bahasa arab dan inggris tok ) terlibat dalam pertarungan <em>dwi bahasa</em> berbentuk tebak-tebakan iseng tak bertajuk. <strong>Kadir </strong>yang mengaku sebagai <strong>Cat Steven</strong> ( <strong>Yusuf Islam</strong> ) dari <strong>Bangkalan</strong> mewakili zona <strong>English</strong>, sedang <strong>Zulham</strong> yang mengaku sebagai <strong>‘Amr Diyab</strong> dari <strong>Solok</strong> mewakili zona <strong>Arabic</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan suwitan ( undian jari ), <strong>Kadir</strong> yang memulai terlebih dahulu. <em>“Cak <strong>ham-Zulham</strong>, coba cari sebuah kata dalam bahasa inggris, yang <strong>antara huruf pertama</strong> dan <strong>huruf terakhirnya</strong> ada … <strong>1 mil</strong> !. Hayo, maté sampeyan !” </em>tantang si <strong>Kadir</strong> dengan logat “<em>British</em>”-nya yang medok. <em>“Mana ada kata yang lebih dari 1 mil</em>, <em>paning bana ambo ni</em>”, fikir si <strong>Zulham</strong> dalam hati. Beberapa menit berlalu tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Dan bersamaan dengan mulai menetesnya keringat dingin serta berakhirnya hitungan kedelapan, <strong>Zulham</strong>-pun melempar handuk putihnya tanda menyerah. <em>“Jawabannya adalah</em> ……. <strong>sMILe</strong><em>. Coba cermati, bukankah antara huruf pertamanya (<strong>s</strong>)  dan huruf terakhirnya (<strong>e</strong>) ada … 1 (<strong>mil)</strong>,<strong> </strong>tak iye ?”</em>, ujar <strong>Kadir</strong> penuh bangga. <strong>Zulham</strong>-pun manggut-manggut puas, dan tanpa sungkan iapun mengangkat tangan kanan <strong>Kadir</strong> tinggi-tinggi dengan penuh sportivitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini giliran <strong>Zulham </strong>berlaga. <em>“Ayo uda <strong>Kadir</strong>,<strong> </strong>tunjukkan sebuah <strong>fi’l</strong> ( verb/kata kerja ) yang paling pendek dari bahasa asing apa saja !”. </em>Tak sampai satu menit, <strong>Kadir</strong>-pun<strong> </strong>menjawabnya dalam dua bahasa sekaligus dengan keyakinan<em> </em>penuh :<em> “<strong>Go</strong> ( pergilah ) dan <strong>qif</strong> ( berhentilah )”</em>. “<em>Keduanya masih salah uda, karena <strong>go</strong> dan <strong>qif</strong> itu kan masing-masing terdiri dari dua huruf. Masih ada yang lebih pendek lagi kok !”, </em>ujar<em> </em><strong>Zulham</strong>.<strong> </strong>Malu<em> </em>tak malu dan mau tak mau karena tidak juga menemukan jawabannya, akhirnya <strong>Kadir</strong>-pun memukul matras tiga kali sebagai tanda menyerah.<em> “Jawabannya adalah</em> <strong><em>qi </em></strong><em>( lindungilah ) dan<strong> ro</strong> ( lihatlah ). Bukankah masing-masing <strong>fi’l</strong> itu hanya terdiri dari <strong>satu huruf</strong> yaitu (<strong>qōf</strong>) dan (<strong>rō’</strong>) !”</em>, tandas <strong>Zulham</strong> penuh kemenangan. <em>“Masa lupa sich, kan tiap hari selalu kita baca dalam do’a sapu jagat ini :  …. <strong>wa <span style="text-decoration:underline;">qi</span>-nā ‘adzāba ‘n-nār</strong> !. <strong>Qi </strong>adalah <strong>fi’l amr </strong>dari <strong>fi’l tsulātsī mujarrod “waqō” </strong>dari<strong> </strong>kelompok <strong>lafīf mafrūq </strong>atau<strong> multawī</strong>, sedangkan<strong> ro </strong>dari<strong> fi’l “ro-ā”</strong> yang berasal dari spesies <strong>mahmūzh ‘ain</strong></em>/<strong><em>nāqish</em></strong><em> <strong>lām</strong>. Sudah ah … capek !” </em><strong>Zulham</strong> menambahkan<em>. </em>Wow … mumtāz !, jangan-jangan <strong>Zulham</strong> ini pernah di <strong>Thowalib</strong> dan jadi calon penerusnya buya <strong>Mahmud Yunus</strong> atau buya <strong>Hamka</strong> nih !?.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>(17)   “Pandangan”  pertama  …  saat  kita  berjumpa  !. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> Lima orang santri-wan remaja yang sedang asyik menikmati libur akhir tahun mereka di kampung, entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja sudah terlibat dalam sebuah obrolan serius tentang masalah cinta.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em> “Kalian masih pada ingat ‘nggak dengan ungkapan bahasa arab ini : <strong>Nazhrotun, fa-‘btisāmatun, fa-salāmun, fa-kalāmun, fa-mau’idun, fa-liqō-un …</strong> ( saling <strong>pandang</strong>, lalu saling tersenyum, lalu saling tegur sapa, lalu ngobrol, lalu bikin janji, lalu ketemuan … ) ?, katanya merupakan proses awal bagaimana dua orang sampai bisa jatuh cinta, tapi aku kok nggak sepenuhnya setuju”, </em>kata <strong>Asep</strong>, sang tuan rumah. <em>“Kenapa</em> <em>? kan memang begitu adanya. Coba dengar pantun ini : Dari mana datangnya lintah … dari sawah turun ke kali, dari mana datangnya cinta … dari <strong>mata</strong> turun ke <strong>hati</strong>”, </em>timpal si <strong>Baim</strong>. <em>“Itu dia. Lagi-lagi dimulai dari <strong>mata</strong>. Lalu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang <strong>tuna netra</strong> ?, </em>sanggah <strong>Asep</strong> agak trenyuh sehingga yang lainnya jadi ikut terdiam.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em> “Ok. Kita tinggalkan dulu soal tuna netra ini. Aku mau nambahin ungkapan <strong>Asep</strong> tadi dengan yang lagi nge-<strong>trend </strong>akhir-akhir ini, yaitu … <strong>fa-‘ttifāqun, fa-khithbatun, fa-zawājun, fa-haflatun, fa-syahru ‘asalin, fa-‘khtilāfun, fa-‘ftirōqun, fa-tahākumun, fa-tholāqun … </strong>( lalu saling cocok, lalu lamaran, lalu menikah, lalu pesta, lalu berbulan madu, lalu bertengkar seru, lalu pisah-rumah, lalu ke pengadilan, lalu … cerai ) iya kan ? kaya para seleb di negeri ini”, </em>kata <strong>Jamil</strong><em> </em>sok kritis. Ketika diskusi mereka semakin seru, tiba-tiba seorang pengemis buta muncul dan langsung lenyap setelah menerima shodaqoh. <em>“Itu lihat pengemis buta tadi, meski tidak mempunyai <strong>nazhroh</strong> ( daya lihat ), tetapi kan masih memiliki <strong>bashīroh</strong> ( mata hati ), jadi dia masih bisa berkegiatan normal seperti yang lainnya</em>”, si <strong>Jamil</strong><em> </em>kembali nyeletuk. <em>“Tetapi yang masih aku ‘nggak mengerti adalah bagimana proses jatuh cintanya mereka ?” </em>kejar si <strong>Asep</strong> masih penasaran<em>. “Gini … <strong>Asep nu kasep</strong>, tolong disimak baik-baik ya kata-kata bijak ini : <strong>Al-lisānu yanfudzu mā lā tanfudzu-hu ‘l-ibrotu</strong> ( <strong>lidah</strong>/<strong>kata-kata</strong> itu mampu menembus sesuatu yang tak sanggup ditembus oleh tajamnya jarum, yaitu <strong>hati</strong> ), artinya senjata para tuna netra itu adalah <strong>kata-kata</strong>, plus <strong>perasaan</strong> plus <strong>penciuman, </strong>faham ?. Tapi ngomong-ngomong kenapa sih <strong>Sep, manéh</strong> <strong>téh</strong> ( kamu ini ) peduli amat pada problema kaum tuna netra, jangan-jangan <strong>aya naon-naon na yeuh</strong> ( ada apa-apanya nih )… ?”,</em> sela <strong>Ikin Sodikin</strong> penuh curiga. Sang pemikir yang sedari tadi hanya diam saja ini akhirnya ikut buka suara juga.<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em> “Masa kalian pada lupa sih, waktu di kereta tempo hari … si <strong>Asep</strong> kan beberapa kali mencoba menegur seorang cewek manis &#8211; yang duduk di seberang kiri deret kursi kita &#8211; dengan cara mengerdipkan mata, tetapi si <strong>‘cah ayu</strong> itu kok hanya <strong>meneng ae</strong> ( diam seribu basa saja ) sehingga membuat <strong>Asep</strong> semakin penasaran. Ironisnya kita baru tahu kalau ternyata si gadis itu <strong>buta</strong> ketika ia turun di stasiun <strong>Balapan, Solo</strong>. Ingat nggak ?” </em>jelas si <strong>Iwan</strong> membuka rahasia.<em> </em>Oooh … pantas saja !. Rupanya pemeo<strong> Love is blind </strong>( <em>Cinta itu buta</em> ) itu memang benar-benar ada ya, dan <em>buta</em> ( <em>raksasa</em> )-nya telah memangsa si <strong>Asep</strong> yang kemudian terkena sindrom<strong> Falling in love at first sight</strong> ( <em>Jatuh cinta pada “pandangan” pertama</em> ) lalu hatinya terseret dan terdampar sesat di stasiun <strong>Balapan </strong>?.<strong> </strong>Jadi nasibnya sama dong dengan mas <strong>Didi “Cucak Rowo” Kempot</strong> yang juga punya kisah sedih di stasiun  yang sama ?!. Aduh … kasihan dech … lu !</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=154&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2009/06/14/154/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>engkau &#8230; temanku  atau  saudaraku ?</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2009/04/29/engkau-temanku-atau-saudaraku/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2009/04/29/engkau-temanku-atau-saudaraku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 12:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[HIKAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[(1)  “Saudaraku”  dilahirkan  bukan  oleh  ibuku  ? Hidup ini memang bagaikan sebuah panggung sandiwara seperti lantunan lagunya Iye’ God Bless. Ada yang terlahir dengan memiliki sekian banyak saudara, adapula yang terlahir tanpa seorang saudarapun. Tetapi kemudian, kisah di panggung bisa bercerita lain. Ada yang telah memiliki sekian saudara dan mestinya berbahagia malah menyesal mengapa ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=147&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>(1)   “Saudaraku”  dilahirkan  bukan  oleh  ibuku  ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hidup ini memang bagaikan sebuah panggung sandiwara seperti lantunan lagunya<strong><em> Iye’</em></strong> <strong><em>God Bless</em></strong>. Ada yang terlahir dengan memiliki sekian banyak saudara, adapula yang terlahir tanpa seorang saudarapun.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tetapi kemudian, kisah di panggung bisa bercerita lain. Ada yang telah memiliki sekian saudara dan mestinya berbahagia malah menyesal mengapa ia harus memiliki saudara. Adapula yang kebetulan tidak mempunyai seorang saudarapun malah sangat berbahagia lantaran <em>“menemukan”</em> saudara-saudara yang bahkan mungkin melebihi saudara sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Barangkali mungkin itu yang diisyaratkan oleh kata-kata bijak <em>( wise words )</em> berikut ini :  <strong><em>“ Rubba  <span style="text-decoration:underline;">akhin</span> lam  talid-hu  ummuka ( wālidatun ) ”</em></strong> <em>( Banyak sakali saudara yang tidak pernah terlahir dari rahim ibumu )</em>. Tetapi meski begitu, saudara adalah tetap saja saudara walaupun terbatasi oleh watak, perangai dan perilaku yang berbeda. Bahkan <em>al-Qur’an</em> malah memperluas jangkauan arti persaudaraan ini dengan catatan kesamaan <strong><em>iman</em></strong>. Tengok surah <strong><em>al-Hujurāt (49)</em></strong> ayat ke <strong><em>10 :</em></strong><em> “Innamā ‘l-mu’minūna <strong>ikhwah</strong> …..”</em>, yang ditambahkan oleh <em>as-Sunnah</em> dengan kesamaan <strong><em>agama</em></strong>, <em>“Al-muslimu <strong>akhū</strong> ‘l-muslim …..”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(2)   Mau   “makanan”,  “obat”   atau   “penyakit”  ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Memiliki saudara adalah sebuah ni’mat ilāhiyah. Meski tidak semua saudara bakal selalu seia sekata dengan saudaranya yang lain. Rambut boleh sama hitam, kita boleh berasal dari rahim yang sama, tetapi yang lainnya …, ya lain lagi ceritanya. Inilah sebabnya mengapa kita kemudian dikaruniai <strong><em>akal</em></strong>, lalu diberi hiasan <strong><em>iman</em></strong> dengan tambahan aksesori berupa <strong><em>ihsan</em></strong>, agar kita dapat bersikap bijak dalam menghadapi kehidupan ini yang tidak selamanya mau berpihak kepada kita, begitu pula dalam <em>kehidupan bersaudara</em>. Kenalilah saudara kita, tetapi yang lebih penting lagi adalah kenalilah diri kita sendiri terlebih dahulu. Untuk itu simaklah catatan dibawah ini yang mungkin dapat membantu :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Al-<span style="text-decoration:underline;">ikhwānu</span> tsalāsah   : </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>akhun  ka ‘l-<span style="text-decoration:underline;">ghidzā</span>’   …   tahtāju  ilai-hi  <span style="text-decoration:underline;">dā-iman</span>, wa … </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> akhun  ka ‘d-<span style="text-decoration:underline;">dawā</span>’    …   tahtāju  ilai-hi  <span style="text-decoration:underline;">ahyānan</span>, wa … </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> akhun  ka ‘d-<span style="text-decoration:underline;">dā</span>’         …   lā tahtāju  ilai-hi  <span style="text-decoration:underline;">abadan</span>. </em></strong><em>artinya<strong> </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Saudara</em></strong><em> itu ada <strong>tiga macam</strong> : </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>bagaikan <strong>makanan</strong>,  yang  … <strong> selalu</strong> kita butuhkan, atau …</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> bagaikan <strong>obat</strong>,  yang  ……….. <strong> kadang-kadang saja</strong> kita butuhkan, atau</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> bagaikan <strong>penyakit</strong>,  yang  ….  <strong>sama sekali tidak</strong> kita butuhkan.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Catatan :</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kata “<strong>akh</strong>” yang berarti “<strong><em>saudara</em></strong>” memiliki banyak bentuk <strong><em>jam’ </em></strong><em>( plural ).</em> Dua yang paling populer adalah “<strong>ikhwah</strong>” dan “<strong>ikhwān</strong>” yang memiliki arti yang tetap sama tetapi berbeda dalam konotasi. Kata “<strong><span style="text-decoration:underline;">ikhwah</span></strong>” digunakan untuk arti “<strong><em>saudara</em></strong>” yang dihubungkan oleh <em>garis <span style="text-decoration:underline;">keturunan</span></em>, sedangkan kata “<strong><span style="text-decoration:underline;">ikhwān</span></strong>” dipakai untuk arti “<strong><em>saudara</em></strong>” yang tercipta karena <em><span style="text-decoration:underline;">persahabatan</span> dan <span style="text-decoration:underline;">pertemanan</span></em>. ( Lihat kamus <em>al-Munjid fi ‘l-lughoh, Louis Ma’louf, Beirut. Halaman 5 ).</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=147&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2009/04/29/engkau-temanku-atau-saudaraku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bola mata kekasih di mata Duo Farouk</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2009/04/25/bola-mata-kekasih-di-mata-duo-farouk/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2009/04/25/bola-mata-kekasih-di-mata-duo-farouk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Apr 2009 03:05:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASYWAAQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[(1)  “ Bening  kedua  bola  matamu “  ….  di  mata  “ Duo &#8211; Farouk “ Ada dua sosok Farouk yang dimiliki Mesir sebagai penyair kontemporer terkenalnya. Salah satunya adalah Farouk Shousha yang juga pengasuh acara budaya “Lughotunā ‘l-jamīlah” di saluran tv nasional, dan yang satunya lagi adalah Farouk Guweida. Kita akan coba melirik pandangan keduanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=131&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>(1)   “ Bening  kedua  bola  matamu “  ….  di  mata  “ Duo &#8211; Farouk “ </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ada dua sosok <strong><em>Farouk</em></strong> yang dimiliki Mesir sebagai penyair <em>kontemporer</em> terkenalnya. Salah satunya adalah <strong><em>Farouk Shousha </em></strong>yang juga pengasuh acara budaya “<strong><em>Lughotunā ‘l-jamīlah</em></strong>” di saluran tv nasional, dan yang satunya lagi adalah <strong><em>Farouk Guweida</em></strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kita akan coba melirik <strong><em>pandangan</em></strong> keduanya dalam menggambarkan makna “<strong><em>dua bola mata</em></strong>” dari gadis impiannya masing-masing dari sajak-sajak yang mereka tulis.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam sajak <strong><em>“Fī ‘ainai-ki … ‘unwānī“</em></strong> yang juga menjadi judul kumpulan puisinya (1979), <strong><em>Farouk Guweida</em></strong> bertutur begini :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">. . . . . . . . . . . .</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> Wa  lau  khuyyir-tu  fī  wathonin </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> la-qultu  hawā-ki  authōnī</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> wa  lau  ansā-ki  yā  ‘umrī </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> hanāyā  qolbī  …  tansā-nī</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> idzā  mā  dhi‘-tu  fī  darbin</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> <span style="text-decoration:underline;">fa-fī  ‘ainai-ki  ‘unwānī</span> …</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Andai aku boleh memilih sebuah tanah air  … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> maka <strong>cinta</strong>mulah yang jadi tanah airku</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> andaipun aku dapat melupakanmu, sayang  … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> maka seantero jiwakupun pasti akan melupakanku</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> andai di suatu tempat aku tersesat  … <strong> </strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> maka di kedua bola matamu kan kutemukan alamatku</em></strong><em> &#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sedang dalam kumpulan puisinya <strong><em>“Lu’lu-atun  fī ‘l-qolb“</em></strong> (1978), pada sajaknya yang bertajuk <strong><em>“Sami‘tu  ‘ainai-ki“</em></strong><em>,<strong> Farouk Shousha</strong></em> menulis seperti ini :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Sami‘tu  ‘ainai-ki</span> … wa  mā  qōlatā </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> sami‘tu  kulla ‘l-hamsi  kholfa  ‘l-jufūn</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> wa  ‘rta‘asyat  kaffāya  fī  lamsatin </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> auda‘tu-hā  hubbī  wa  sirrī  ‘d-dafīn</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> aiqozh-ti  fī  nafsī  dabība  ‘l-munā </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> asy‘al-ti  fī  qolbī  nidā-a  ‘l-hanīn</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> <span style="text-decoration:underline;">ainā-ki  …  lam  asyhad  siwā  marfa-in</span> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> tarsū  ‘alai-hi  sufunu  ‘l-mut‘abīn</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Kudengar seluruh tutur kedua bola matamu </strong>… </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> kudengar pula setiap bisik di balik kelopaknya</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> kedua tangankupun bergetar oleh sentuhannya  … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> dan kusimpan dalam cintaku yang lama terkubur </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> kau bangkitkan kembali semua harapku   … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> dan nyalakan lagi panggilan kerinduan dalam hati ini</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> <strong>kedua bola matamu adalah dermaga</strong> … </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> tempat berlabuhnya bahtera mereka yang letih mencari. </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bahkan seorang <strong><em>Ismail Marzuki</em></strong> sempat merekam bagaimana seorang gadis paramedis “kesemsem” pada sesosok pemuda pejuang hanya dengan menatap <strong><em>sepasang mata bola</em></strong>-nya dari balik jendela kereta. Ini beliau gambarkan dalam lirik lagu <strong><em>Sepasang mata bola </em></strong>yang bernuansa perjuangan “tempo deloe” :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;">Sepasang mata bola</span> … </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> dari balik jendela</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> datang dari Jakarta  … </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> ‘nuju medan perwira</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> kagum ku melihatnya  … </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> sinar nan perwira rela</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> hati telah terpikat  … </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em> semoga kelak kita berjumpa pula </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Wow … romantis abiiis ya. Tapi kita harus berhati-hati dengan yang namanya mata ini, apakah itu mata kita sendiri ataupun mata orang lain. Meskipun cuma sepasang, ia bagaikan sebatang anak panah beracun yang sangat berbisa dan berbahaya. Iiih … takut ?!</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=131&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2009/04/25/bola-mata-kekasih-di-mata-duo-farouk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>uq&#8217;uduu &#8230; yaa  hadhrot al-habaaib</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2009/03/17/uquduu-yaa-hadhrot-al-habaaib/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2009/03/17/uquduu-yaa-hadhrot-al-habaaib/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 04:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[TADQIIQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[(4)  “ Habā-ib ” (?)  dalam  bejibunnya  bentuk-bentuk  “ jam’u ‘t-taksīr ” Dalam pembelajaran bab “jam’u ‘t-taksīr” yang lumayan banyak macamnya itu, ketika sampai pada pembahasan wazn “fa-’ā-il”, kamipun diberikan bermacam-macam contohnya, seperti : ro-sā-il ( dari bentuk mufrod risālah ), sho-hā-if ( dari bentuk mufrod shohīfah ) dan ‘a-jā-iz ( dari bentuk mufrod ‘ajūz [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=116&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>(4)  “ Habā-ib ” (?)  dalam  bejibunnya  bentuk-bentuk  “ jam’u ‘t-taksīr ”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam pembelajaran bab <strong>“jam’u ‘t-taksīr”</strong> yang lumayan banyak macamnya itu, ketika sampai pada pembahasan <em>wazn</em> <strong>“fa-’ā-il”</strong>, kamipun diberikan bermacam-macam contohnya, seperti : <strong>ro-sā-il </strong> ( dari bentuk <em>mufrod</em> <strong>risālah </strong>), <strong>sho-hā-if</strong> ( dari bentuk <em>mufrod</em> <strong>shohīfah </strong>)<strong> </strong>dan<strong> ‘a-jā-iz </strong>( dari bentuk <em>mufrod</em> <strong>‘ajūz </strong>/ perempuan tua<strong> </strong>). Lalu sang pengajar bertanya tentang bentuk <em>mufrod</em> dari kata-kata <strong>“habā-ib” </strong>yang dengan entengnya dijawab oleh para murid dalam sebuah koor yang amat kompak : <strong>“habīb” !</strong>. Dan sang gurupun manggut-manggut bahagia tanda setuju. <em>Is it all and so simple ? </em>Kayaknya perlu <strong><em>tadqīq</em></strong> dan<em> </em><strong><em>tahqīq </em></strong>nih ?<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam kitabnya <strong>“Al-Faishol fī Alwāni ‘l-Jumū’“ </strong>( <strong><em>Dāru ‘l-Ma’ārif, Mesir</em> </strong>)<strong> </strong>pada<strong> </strong>halaman 79-82 ( <em>al-binā’ ats-tsāmin ‘asyar : </em><strong>fa-’ā-il</strong><em> </em>), halaman 123 ( <em>jam’u ‘l-muannats minhu bi ‘l-alifi wa ‘t-tā</em>’, <em>wa ‘alā </em><strong>fa-’ā-il </strong>)  dan pada halaman 165-168 ( <em>fashl fī asmā’ lā tukassar illa ‘alā </em><strong>fa-’ā-il </strong>), sang pengarang, <strong><em> </em>‘Abbās abu ‘s-Sa’ūd </strong> dengan rujukan kitab-kitab : <em>Alfiyah, Syarh al-Mufash-shol, Syarh Ibn Ya’īsy</em> dll. ada mengupas secara tuntas pembahasan <em>wazn</em> <strong>“fa-’ā-il”</strong> ini yang ringkasannya sebagai berikut : <strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em> Wazn</em> <strong>“fa-’ā-il”</strong> dipakai sebagai patokan/pola/model untuk bentuk <strong>jam’u ‘t-taksīr </strong>yang berasal dari setiap bentuk <strong><em>mufrod</em></strong> berikut ini <strong><em>dengan syarat dan ketentuan </em></strong>khusus, yaitu :<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>1.<strong> <span style="text-decoration:underline;">Rubā’ī</span></strong> (</em> terdiri dari<em> <strong>empat huruf</strong> )<strong> </strong>yang<strong> huruf <span style="text-decoration:underline;">ketiga</span>nya</strong></em> adalah<strong><em> huruf <span style="text-decoration:underline;">MAD</span>,</em></strong><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>2.<strong> <span style="text-decoration:underline;">MUANNATS</span></strong>,</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>3.<strong> bisa <span style="text-decoration:underline;">berakhiran</span> </strong>dengan<strong> huruf <span style="text-decoration:underline;">HĀ’ ( tā’ ) marbūthoh</span></strong> </em>dengan <strong><em>lima wazn</em>/pola</strong>, seperti :</p>
<p style="text-align:justify;">a.<strong> fa-‘ā-laH</strong> contohnya   : <strong> sya-hā-daH,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> sya-hā-id</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>b.<strong> fi-‘ā-laH</strong> contohnya   : <strong> ri-sā-laH</strong>,       jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> ro-sā-il</strong> <strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>c.<strong> fu-‘ā-laH</strong> contohnya   : <strong> qu-lā-maH,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     : <strong>qo-lā-im </strong> ( potongan )<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>d.<strong> fa-‘ū-laH </strong>contohnya   : <strong> ha-mū-laH,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> ha-mā-il </strong> ( unta hamil )<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>e.<strong> fa-‘ī-laH</strong> contohnya   : <strong> ‘a-qī-daH,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> ‘a-qō-id.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>4.<strong> bisa <span style="text-decoration:underline;">TIDAK berakhiran</span> </strong>dengan<strong> huruf <span style="text-decoration:underline;">HĀ’ ( tā’ ) marbūthoh</span></strong> </em>dengan <strong><em>lima wazn</em>/pola</strong>, seperti :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>a.<strong> fi-‘ā-l</strong> contohnya   : <strong> syi-nā-th</strong>,       jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> sya-nā-ith </strong> ( perempuan mulus )<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>b.<strong> fa-‘ā-l</strong> contohnya   : <strong> sya-mā-l,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> sya-mā-il </strong> ( angin dari utara )<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>c.<strong> fu-‘ā-l</strong> contohnya   : <strong> ‘u-qō-b,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     : <strong>‘a-qō-ib </strong> ( burung buas )<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>d.<strong> fa-‘ū-l</strong> contohnya   : <strong> ‘a-jū-z,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> ‘a-jā-iz </strong> ( perempuan tua )<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>e.<strong> fa-‘ī-l</strong> contohnya   : <strong> sa-‘ī-d,</strong> jam’u ‘t-taksīr-nya  adalah     :<strong> sa-‘ā-id </strong>( nama perempuan )</p>
<p style="text-align:justify;">( Kelompok ini tetap dipersyaratkan <strong>harus</strong> <strong>berbentuk<em> <span style="text-decoration:underline;">MUANNATS</span> TA’NĪTSAN  MA’NAWIYYA</em></strong> )</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1.  jadi, dengan syarat nomor 2 atau nomor 4 saja ( yang mengharuskan bentuk <strong><em>MUANNATS</em></strong> ), maka kata-kata <strong>“habāib” </strong>yang<em> ‘alā wazn <strong>“fa-’ā-il ” </strong></em>itu adalah <strong><em> <span style="text-decoration:underline;">tidak mungkin</span></em></strong> merupakan  <strong>jam’u ‘t-taksīr </strong>dari kata-kata <strong>“habīb”</strong>, karena lafzh <strong>“habīb”</strong> jelas-jelas adalah <strong><em>MUDZAKKAR.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">2.  bila mencari dalam kamus-kamus <strong><em>besar</em></strong>pun kita <strong><em>baru dapat menemukan</em></strong> kata-kata <strong>“habāib” </strong>pada <strong>bentuk jam’</strong> dari entri kata<strong> “habībaH” </strong>yang <strong><em>MUANNATS</em></strong> ( syarat nomor 3.e. diatas terpenuhi ).<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">3.  sedang<strong> bentuk jam’</strong> dari entri kata<strong> “habīb” </strong>yang kita temukan di kamus-kamus tadi adalah : <strong>ahibbā</strong>’, <strong>ahibbah, </strong>dan<strong> ahbāb, </strong>serupa dengan kata-kata<strong> syadīd</strong>, <strong>kholīl</strong>,<strong> thobīb</strong>, <strong>‘azīz, </strong>dan<strong> jalīl </strong> ( kesemuanya adalah  <strong><em>mudho’’af</em></strong> ) yang<strong> bentuk jam’</strong>-nya adalah : <strong>asyiddā</strong>’ ( surah al-Fath : 29 ) , <strong>akhillā</strong>’ ( surah az-Zukhruf : 67 ), <strong>athibbā</strong>’, <strong>a’izzā</strong>’, dan <strong>ajillā</strong>’. ( lihat buku <strong>al-Faishol fī Alwāni ‘l-Jumū’</strong> diatas pada halaman 74 dalam pembahasan <strong><em>al-binā’ as-sādis ‘asyar : af-‘i-lā’</em></strong>)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ketika sedang mumet-mumetnya menyusun tulisan ini, tiba-tiba terdengar alunan merdu suara <strong>Farīd al-Athrosy</strong>, penyanyi Mesir asal Libanon yang mendendangkan sebuah lagu lawas bertajuk : <em>“<strong>Yā <span style="text-decoration:underline;">habāibi</span> yā ghōib</strong></em><strong>ī<em>n</em></strong>”. Hal ini mengingatkan saya pada sepotong kata yang sama berbunyi <strong><em>“… l-ajli ‘l-<span style="text-decoration:underline;">habāib</span>”</em></strong> dari lagu <strong><em>“Wahasy-tūnī”</em> </strong>yang biasa dilantunkan oleh biduan terkenal Mesir asal Aljazair,<strong> Wardah al-Jazāiriyah</strong>. Dalam  kedua lagu ( dalam logat <em>‘amiyah masriyah</em> ) tadi terdapat kata-kata <strong>habāib </strong>yang berarti <strong><em>para kekasih</em></strong> ( baik <strong><em>laki-laki</em></strong> maupun <strong><em>perempuan </em></strong><em>)</em>. Maka hati inipun jadi tenang dan riang lagi deh.  <strong><em>Oh … yā habāibi, wahasy-tūnī  ‘awi, law aghommad wa afattah, lā’īkum gāiyīn, gāiyīn. </em> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>(5)  “ Duduklah … ! “  bahasa  arabnya  apa  ya  ?,  “ uq’ud ! ”  atau  “ ijlis ! ”  ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jika pertanyaan diatas yang menjadi judul tulisan ini harus diladeni, maka jawaban bareng kita pasti kompak seperti ini : <em>“Kedua-duanya benar !”</em>, karena kata-kata “<strong>uq’ud” </strong>merupakan <strong>fi’l amr</strong> ( bentuk imperatif / perintah ) dari <strong>qo’ada </strong><strong>ﹹ</strong><strong> , qu’ūd</strong> dan begitu juga halnya dengan kata-kata <strong>“ijlis” </strong>dari <strong>jalasa </strong><strong>ﹻ</strong><strong> , julūs </strong>yang kedua-duanya berarti<strong> “duduk”</strong>. <em>The answer is absolutely &#8230; right, </em>kan ?  Kita …, gitu loh !</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Shobron ya ikhwah !</em>. Tetapi ada juga lho yang menjawabnya begini : <em>“Ya …, tergantung lah !”</em>. Lho kok ? Menurut orang ini, <strong>‘Ali ‘bnu Bāli al-Qosthonthīni</strong> dalam bukunya <strong>“Khoiru ‘l-Kalām fi ‘t-Taqosh-shi ‘an Aghlāthi ‘l-‘Awām“ <em>( Dār ar-Risālah, Beirut, 1983 )</em></strong> bahwa perintah  <strong>“uq’ud”</strong> khusus ditujukan untuk orang yang sedang <strong><em>berdiri</em></strong> agar <strong><em>duduk</em></strong>.<strong> </strong>Sedangkan perintah<strong> “ijlis”</strong> hanya diberikan untuk orang yang sedang <strong><em>berbaring </em></strong> <em>( atau yang berposisi mirip itu )</em> agar <strong><em>duduk</em></strong>. <strong>“Fa inna ‘l qu’ūda : al-intiqōlu min ‘uluww ilā sufl, wa ‘l-julūsa bi ‘l-‘aks” </strong>katanya, yang artinya : <em>“Karena kata-kata <strong>qu’ūd</strong></em> <em>mengandung arti perpindahan dari <strong>posisi atas</strong> ke <strong>posisi bawah</strong></em>, <em>sedangkan</em> <em>kata-kata</em><strong> <em>“julūs”</em></strong><em> merupakan kebalikannya</em>. Jadi, berbeda kan ? Ya beda baaanget. <em>OK</em>, kalo gitu <em>… please</em> <em>Sit down</em> deh, eeeh … <em>Take a seat </em> lah !</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=116&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2009/03/17/uquduu-yaa-hadhrot-al-habaaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>berbahasa sambil tersenyum</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2009/03/17/berbahasa-yang-benar-itu-indah/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2009/03/17/berbahasa-yang-benar-itu-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 03:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[NUKAT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[(1)  antara  “petani”   dan  …  “tikus  yang  numpang  lewat”            alkisah, suatu hari seorang pengawas pendidikan sedang mengadakan sidak ( inspeksi mendadak ) ke sebuah sd di pinggiran kota cairo. sang penilik secara acak langsung masuk ke ruang kelas 4 yang kebetulan sedang belajar bahasa inggris.            setelah sedikit basa-basi, beliaupun mengajukan beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=110&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(1)<span>  </span>antara<span>  </span>“petani”<span>   </span>dan<span>  </span>…<span>  </span>“tikus<span>  </span>yang<span>  </span>numpang<span>  </span>lewat” </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>alkisah, suatu hari seorang pengawas pendidikan sedang mengadakan <strong><em>sidak</em></strong> ( inspeksi mendadak ) ke sebuah sd di pinggiran kota <em>cairo</em>. sang penilik secara acak langsung masuk ke ruang kelas 4 yang kebetulan sedang belajar bahasa inggris. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>setelah sedikit basa-basi, beliaupun mengajukan beberapa pertanyaan berupa test kosa-kata dasar bahasa inggris kepada para murid. “bahasa inggrisnya <strong><em>mudarris </em></strong><em>(<strong> </strong>guru )</em> apa ?” tanyanya yang langsung dijawab oleh murid yang duduk paling depan : “<strong><em>teacher</em></strong><em> !</em>”. “<em>good !</em>” kata si penilik. dan setelah mengajukan kira-kira 5 buah pertanyaan yang kesemuanya dijawab dengan cermat dan benar oleh para murid, akhirnya sang penilik memberikan pertanyaan pamungkasnya : “apa bahasa inggrisnya <strong><em>fallāh </em></strong><em>( petani )</em> ?”.<span>  </span>seisi kelas terdiam, tak ada yang dapat menjawab. beberapa menit berlalu terasa sangat lambat, pak gurupun mulai gelisah dan meneteskan keringat dingin. tetapi tiba-tiba, seorang siswi tambun yang duduk di baris paling belakang mengangkat tangannya sambil berteriak keras : “<strong><em>fa’r <span> </span>marr</em></strong> <em>!</em>”. “<strong><em>ahsant </em></strong><em>!<strong> </strong>( bagus )</em>” kata si penilik yang merasa mendengar kata “<strong><em>farmer</em></strong>” diucapkan dan langsung menyalami sang guru seraya memujinya. seisi kelaspun sontak gembira meski agak sedikit bingung dengan kejeniusan si gendut yang tiba-tiba itu. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>usut punya usut, rupanya si jenius ( yang sebenarnya agak o’on itu ) ketika meneriakkan kata <strong><em>fa’r marr</em></strong><span>  </span>sambil mengangkat tangannya bukan untuk menjawab pertanyaan sang penilik, melainkan lantaran saking terkejutnya melihat seekor <strong>tikus</strong> yang <strong>melintas</strong> di langit-langit bagian atas papan tulis, ia secara spontan <strong>menunjuk</strong> ke arah atas sambil meneriakkan kata-kata tadi. maksudnya adalah “ada <em>tikus</em> (<strong><em>fa’r</em></strong>) <em>melintas</em> (<strong><em>marr</em></strong>)“. kedengarannya memang seperti lafal <strong><em>“farmer” </em></strong>kan<strong><em> </em></strong><span> </span>ya ?<span>  </span>wéléh wéléh ! <em>bravo gal ! </em>sebuah<em> blessing in disguise</em> kayaknya !.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(2)<span>  </span>horree<span>  </span>…<span>  </span>aku<span>  </span>dapat<span>  </span>kenaikan<span>  </span>pangkat<span>  </span>istimewa<span>  </span>!</span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>orang mesir memang terkenal kepandaiannya dalam “ber-<strong><em>mujāmalah</em></strong>” atau berbasa-basi. apalagi dalam perihal sapa-menyapa terutama dengan orang yang baru dikenal. maka kata-kata indah akan dengan lancar meluncur dari bibir mereka, dan jangan heran bila kelak anda akan disapa dengan sanjungan- sanjungan selangit, semisal : “<strong><em>yā royyīs</em></strong><em> !</em>” ( wahai presiden ! ), “<strong><em>yā kabtin</em></strong><em> ! </em>” ( hai kapten / komandan ) atau “<strong><em>yā afandim</em></strong>” ( wahai tuan yang mulia ! ). bila anda seorang perempuan, berbahagialah dengan teguran-teguran aduhai seperti berikut ini :<span>  </span>“<strong><em>yā hilwah</em></strong>” ( hai cantik ! ), “<strong><em>yā ama</em>r</strong>” ( wahai rembulan ! ), “<strong><em>yā ammūrah</em></strong>” ( wahai tuan puteri ! ) dan seterusnya. iiih … aku jadi tersanjung deh !</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>seorang prajurit anggota pasukan garuda kita yang berpangkat <strong>kopral</strong> dan baru bertugas di <em>buffer zone, suez</em> ketika sedang berjalan-jalan di kota <em>cairo</em> dengan berpakaian sipil, menjadi salah tingkah tatkala seseorang mencolek dan menegurnya hangat sambil segera berlalu : “<em>yā <strong>kabtin</strong> !</em> <em>izzayyak ? </em>” ( hai <strong>kapten</strong> ! apa kabar nih ? ). sang kopral sambil tersenyum bangga berkata pada rekan di sebelahnya yang berpangkat <strong>sersan</strong> : <em>yo opo rek, mosok sih aku <strong>dada’an naek pangkat langsung dadi kapten</strong> ee ! </em>wo<em> … </em>gé-ér nih yeee ?</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(3)<span>  </span>heh <span> </span>… <span> </span>isteriku<span>  </span>melahirkan<span>  </span>???<span>  </span>al-hamdu li ‘llāh<span>  </span>! </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>bercukur rambut ala <strong><em>dpr</em></strong> ? wah … asyik tuh, apalagi bila dpr ( dibawah pohon rindang )-nya berlokasi di tepi sungai nil yang terkenal jernih dan tenang serta dengan angin semilirnya yang tidak lembab itu, aduh … komplit deh !. coba bandingkan dengan bercukur ala dpr yang ada di <em>taman oerip soemoharjo, jakarta timur</em> atau bahkan yang di sekitar <em>kebon raya bogor</em> !?, pasti sama … yaitu sama-sama mengantukkan alias bikin ngantuk. sudah <em>murah,</em> <em>meriah</em> lagi ( karena ditonton banyak orang yang lalu lalang ). </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>suatu hari, seorang lelaki gemuk berusia sekitar 30-an sedang terkantuk-kantuk ni’mat ketika bercukur dpr di tepian nil di sekitar kawasan <em>‘agouzah</em>, <em>guizah </em>( seberang <em>cairo</em> ). tiba-tiba seorang pemuda gondrong dengan berlari-lari kecil datang menghampiri dan menepuk badan tokoh kita yang rada tambun ini seraya berkata dengan suara tersengal-sengal : “<strong><em>yā</em></strong><em> <strong>mitwalli</strong>, <strong>yallā irga’ ‘awām </strong>( hei mitwalli,<strong> </strong>ayo cepat pulang ) <strong>isterimu mau melahirkan</strong> tuh … !</em>”. karena kaget, tanpa berfikir panjang lagi iapun segera beranjak dari kursi cukurnya lalu berlari dengan amat berat. baru beberapa langkah terayunkan iapun segera menghentikannya, lalu berfikir sejenak. kemudian dengan gontainya iapun kembali ke kursi dpr-nya sambil bergumam dan tersenyum kecut<span>  </span>: “<em>ah … bodohnya aku. namaku kan <strong>madbūli</strong>, bukan <strong>mitwalli</strong>, lagi pula aku <strong>belum menikah</strong>, lalu buat apa tadi aku mau pulang segala ?</em>”. aduh, kasian deh … lu, dikerjain orang iseng. makanya … cepat kawin dan suruh isterimu segera melahirkan !. biar ‘nggak kecelé.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(4)<span>  </span>pernah<span>  </span>dengar<span>  </span>riwayat<span>  </span>maulid<span>  </span>al-barzanji<span>  </span>“ made<span>  </span>in<span>  </span>japan “ ?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>teman-teman mahasiswa asal <em>betawi</em> di <em>cairo</em> biasanya mengadakan pertemuan rutin sebulan sekali. kadang-kadang, acara diisi pula dengan “<strong><em>maulidan</em></strong>” lewat pembacaan “<strong><em>riwayat</em></strong> kelahiran nabi saw.” ( yang </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">secara <strong><em>keliru</em></strong> disebut dan dikenal dengan istilah pembacaan <em>“<strong>rawi</strong>”</em> ). </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>pada suatu kesempatan pembacaan <em>“rawi” </em>yang<em> </em>berbentuk <em>prosa</em> karya <strong>syeikh ja’far al-barzanji</strong>,<em> </em>seorang teman yang terkenal bersuara indah dan sangat fasih, diminta untuk membacakan <strong><em>fasal terakhir</em></strong><em> </em>yang berada persis sebelum <strong><em>fasal </em></strong>yang berisi<strong><em> do’a</em></strong>. ketika kami tengah asyik menikmati merdunya suara si pembaca dan indahnya isi prosa tersebut, tiba-tiba &#8211; di bait sebelum terakhir, sebagian hadirin yang <strong><em>eling</em></strong> menangkap sebuah <em>keganjilan</em> pada bacaan teman tadi. jelas saja teman-teman yang mengerti hal ini jadi tersenyum <em>geli</em>, sementara teman-teman lainnya hanya bisa<em> bengong</em> kebingungan melihat sebagian kami pada tersenyum sambil memamerkan gigi <strong><em>betawident</em></strong>-nya<em>. </em>apa pasal ? <em>what’s wrong with this recitation ? </em>makanya lain kali, pada nyimak dong !.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>rupanya bait yang seharusnya berbunyi begini <strong><em>: “wa hā hunā waqofa binā jawādu ‘l-maqōli ‘ani ‘t-thirōdi fi ‘l-halbati ‘l-<span style="text-decoration:underline;">bayāniyah</span>” </em></strong><em>( “sampai disinilah kuda pacu ini menghentikan kita dari terus menebar kata lewat arena lomba yang penuh dengan <strong><span style="text-decoration:underline;">uraian-uraian</span></strong> indah” ),</em> entah ia sadar atau tidak, satu potong kata terakhir dari bait ini dibaca <em>keliru</em> menjadi : <strong><em>“ …… fi ‘l-halbati ‘l-<span style="text-decoration:underline;">yābāniyah</span>”<span>  </span></em></strong>yang artinya : “ <strong><em>…… di arena balapan di <span style="text-decoration:underline;">jepang</span></em></strong>“. jadi … memang jauh sekali perbedaan artinya, pantaslah kalau sampai bisa membuat kita-kita tersenyum. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>sebenarnya teman kita ini tidak dapat dipersalahkan juga -<span>  </span><strong><em>dia … juga manusia</em></strong>, maka <strong><em>jangan ditusuk dengan pisau belati</em></strong>. ( waktu itu, pada beberapa tahun terakhir, negara <em>mesir</em> memang sedang dilanda badai “demam jepang” sehingga semua berita di segala media selalu dipenuhi dengan kata-kata : “<strong><em>yābān</em></strong>” dan “<strong><em>al-yābāniyah” </em></strong><em>( “jepang” dan “yang berbau jepang”). </em>jadi wajar saja bila kerancuan tadi bisa terjadi, karena di benak kitapun setiap hari selalu <strong><em>dijejali</em></strong> dengan kata-kata “<strong><em>yābān</em></strong>” dan “<strong><em>al-yābāniyah”</em></strong> ). <em>mā ‘alisy ba’ā yā akhī</em>, <em>bass syidd heilak</em>. inilah yang disebut dengan <em>slip of the tongue</em> atawe <em>lidah kesrimpet</em>.<span>  </span><em><span> </span><span> </span></em></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(5)<span>  </span>“ <em>from</em><span>  </span>pondok<span>  </span>pesantren <span> </span>(<em> islamic traditional boarding school</em> )<span>  </span>… <em><span> </span>with<span>  </span>love</em> “ </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>karena baru saja mendapat sebuah <em>kata-kata mutiara </em>indah dari pelajaran <strong><em>mahfūzhōt</em></strong>-nya siang tadi, seorang remaja tanggung langsung saja menyambar <em>ballpoint,</em> selembar amplop dan tiga carik kertas merah jambunya. dengan hati yang berbunga-bunga dan senyum ceria yang terus bergelayut di bibirnya, suratpun selesai dibuat dengan tak lupa menyisipkan kata-kata mutiara indah tadi yang menurutnya cocok untuk orang-orang yang sedang kasmaran, sekaligus untuk sedikit “<em>pamer</em>” pada sang pujaan bahwa dirinya mulai “<em>mahir</em>” berbahasa arab.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>surat<strong><em> </em></strong>yang<strong><em> “sealed with a kiss”</em></strong>-pun segera dikirim dengan moda <strong><em>kilat tercatat</em></strong> pula. setelah lewat beberapa hari yang menyiksa, balasan yang dinantipun tiba ( sudah barang tentu dengan <em>nama pengirim yang dipalsukan </em>agar<em> lolos sensor</em> ). hatipun deg-deg-plas, berdebar tak karuan. dan dengan bermodal sinar lampu 8 watt, wc yang beraroma alamipun jadi tempat paling aman untuk membaca. selang beberapa menit sang arjunapun keluar dari tempat pertapaannya dengan wajah <em>termehek-mehek</em>, sendu, murung dan pucat pasi bagaikan baru melihat hantu. <em>ada apa gerangan dengan isi surat itu ?</em> <em>the answer is blowin’ in the wind</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>rupanya “<em>hubungan diplomatik</em>”-nya baru saja diputuskan oleh sang gadis pujaan yang merasa sangat tersinggung dan diremehkan sekaligus dilecehkan oleh isi kata-kata mutiara sang jejaka ( yang kini sudah di-<em>persona non grata</em>-kan itu ). lho … kok bisa ? <span> </span>ooh, teganya, teganya, teganya, teganya … pada diriku ! </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>untuk mendapat kejelasan, mari kita simak bersama-sama kata-kata mutiara ( yang berakibat tidak indah itu ) yang telah dikirim oleh sang pangeran. sebuah syi’r berbahasa arab yang sebenarnya hanya terdiri dari dua baris, ternyata … cuma berbunyi begini saja kok :</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span> </span>“<span style="text-decoration:underline;">ahbib</span> habībaka <span style="text-decoration:underline;">haunan</span> <span style="text-decoration:underline;">mā</span> … ‘asā an yakūna <span style="text-decoration:underline;">baghīdhoka</span> yauman mā,</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><em><span> </span>wa abghidh baghīdhoka haunan mā …<span>  </span>‘asā an yakūna habībaka yauman mā”</em></strong>. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">artinya :</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">“<span style="text-decoration:underline;">cintailah</span> kekasihmu <span style="text-decoration:underline;">sekedarnya</span> <span style="text-decoration:underline;">saja</span> … khawatir suatu hari ia malah jadi <span style="text-decoration:underline;">musuhmu</span>,</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">dan bencilah pada musuhmu sekedarnya saja … khawatir suatu hari ia malah jadi kekasihmu”</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>bagaimana ? siapa yang salah … sang romeo, sang juliet atau kedua-duanya ?. andalah yang menilai dan keputusan anda tidak dapat diganggu gugat. buat sang arjuna, jangan bersedih, kan ada lagu penghibur seperti ini : putus-nyambung, putus-nyambung, putus-nyambung, putus-nyambung !. semoga aja ya ! <em>don’t ever give up, man !</em> gitu aja kok repot ?!</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(6)<span>  </span>ta’līm<span>  </span>al-lughoh<span>  </span>al-‘arobiyyah … li ‘l-athfāl<span>  </span>fi ‘l-bait<span>  </span>! </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>seorang ayah sedang mengajarkan bahasa arab tingkat dasar kepada putri kecilnya yang masih belajar di tk dengan sangat sabar dan <em>telatén</em>. menurut sang ayah, mengajarkan anak di waktu kecil itu bagaikan mengukir diatas batu, dan karena alasan itu pulalah beliau serius melakoninya.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>ketika akan mengakhiri sesi materi “perbedaan antara <strong>mudzakkar</strong> dan <strong>muannats</strong>”, sang ayahpun bertanya tentang kata-kata <strong><em>al-midzyā’</em></strong><em> ( radio )</em>, apakah termasuk<strong> </strong>kata-kata<strong> mudzakkar</strong> ( <em>masculine gender</em> ) atau <strong>muannats</strong> ( <em>feminine gender</em> ). sang putripun sontak menjawab : “<strong><em>muannats, </em></strong><em>yah !</em>”. “<em>lho kok muannats sich … nak ?</em>” tanya sang ayah lagi. sang anak yang memang agak lémés inipun segera menukas dengan gayanya sendiri, katanya : “<em>coba aja ayah setel tuh radionya, pasti deh bakal ngoceh dan nyerocos terus, nggak berenti … kayak perempuan gitu !</em>”. sang ayah jadi terbengong-bengong penuh kagum, sedang sang bunda yang sedari tadi cuma khusyuk menyimak, segera beranjak ke arah <em>kulkas</em> untuk <em>mendinginkan</em> hatinya yang sedikit geram. <em>please be cool, mom ! </em>jangan diambil ati dong, emang dia anak siapa sich … ?<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(7)<span>  </span>i’rōbu ‘l-jumal<span>  </span>?<span>  </span>…<span>  </span>uh<span>  </span>…<span>  </span>amat<span>  </span><em>boring<span>  </span>and<span>  </span>tiring</em><span>  </span>deh<span>  </span>!<span>  </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>dalam pelajaran bahasa arab, ada satu pembahasan yang selalu bikin hati sebel dan kepala mumet, yaitu mengenai<span>  </span>“<strong>i’rōbu ‘l-jumlah” </strong>( <em>menguraikan jabatan/kedudukan kata dalam sebuah kalimat</em> ). hampir semua siswa mengeluhkan hal yang satu ini, tanpa kecuali.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>di sebuah kesempatan, seorang guru menyuruh salah seorang siswanya untuk meng-<strong><em>i’rōb</em></strong>-kan kalimat berikut : <strong>“ yadhribu ‘r-rojulu al-kalba “</strong>. sang siswa yang dikenal cukup cerdas dan agak suka nyelenéh ini dengan énténgnya menjawab begini :</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:2pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">“<strong>yadhribu</strong>” : <span> </span><em>fi’lun mudhōri’, <span style="text-decoration:underline;">marfū’un bi ‘l-‘ashō</span></em>.<span>  </span>/ <strong>“ar-rojulu” </strong>:<span>  </span><em><span style="text-decoration:underline;">zhōlim</span></em>. <span> </span>/ <strong>“al-kalba“<span>  </span></strong>:<span>  </span><em><span style="text-decoration:underline;">mazhlūm</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong>“wa man dhoroba hayawānan dakhola ‘n-nār” </strong><span> </span>yang artinya :</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:2pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>“yadhribu” : fi’l mudhōri’, dengan <span style="text-decoration:underline;">mengangkat tongkat</span>. </em>/<em> “ar-rojulu” : <span style="text-decoration:underline;">penganiaya</span>. </em>/<em> “al-kalba“ : <span style="text-decoration:underline;">teraniaya</span>.</em></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">“barang siapa yang memukul binatang ia akan masuk neraka”. </span></em></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">padahal <strong><em>i’rōb</em></strong><em> </em>yang benar mestinya seperti ini <span> </span>( ini menurut sang guru lho, bukannya saya ) :</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:2pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">“<strong>yadhribu</strong>” : <em>fi’lun mudhōri’, marfū’</em>. / <strong>“ar-rojulu” </strong>: <em>fā’il, marfū’</em>. / <strong>“al-kalba“ </strong>: <em>maf’ūlun <span> </span>bih, manshūb</em>.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>sang gurupun hanya geleng-geleng kepala saja mendengan bentuk<strong><em> i’rōb </em></strong>yang aneh tadi, kemudian ia menyuruh si siswa untuk berdiri di pojok sambil mengangkat salah satu kakinya. belum juga lewat 5 menit, tiba-tiba bel tanda istirahatpun berdentang kencang, dan seluruh kelaspun berteriak gembira sambil berhamburan keluar karena baru saja terlepas dari neraka ketakutan.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Calibri;"><span> </span><em></em></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(8)<span>  </span>al-murōsalah <span> </span>bi<span>  </span>‘l-‘arobiyyah<span>  </span>?<span>  </span>…<span>  </span><em>why<span>  </span>not<span>  </span></em>?<span>  </span>…<span>  </span>siapa<span>  </span>takut<span>  </span>!<span>  </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>belum juga 3 hari ia tinggal ( sementara, sebelum masuk asrama ) di <em>syu’’ah</em> <em>( apartment )</em> sumpek kami, matanya sudah kecantol pada kecantikan seorang dara yang tinggal persis di seberang <em>flat</em> kami, mona namanya. ia bahkan telah bertekad ingin mengiriminya surat tanda perkenalan <em>and just saying hello</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><span>         </span></strong>karena merasa belum mampu menulis surat berbahasa arab dengan baik dan benar, maka <em>don juan</em> kita inipun membeli buku “<em>al-murōsalah al-‘ashriyyah bi ‘l-‘arobiyyah</em>” ( korespondensi modern dalam bahasa arab ) yang menurut penjualnya merupakan buku <strong><em>best seller</em></strong> saat itu. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>setelah menemukan apa yang ia cari, maka sebuah contoh suratpun langsung di-<strong><em>kutib</em></strong> secara utuh dan lengkap, lalu dimasukkan kedalam sebuah amplop yang wangi untuk segera dikirim. esoknya, lewat jasa seorang <em>bawwāb</em> ( portier/penjaga pintu ) apartmentnya, surat itupun langsung sampai di tangan mona.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>esoknya lagi, surat balasan yang dinantipun tiba. tetapi kawan kita ini kok malah tampak kecewa berat dan amat terpukul seperti nyaris k.o., ada apa sobat ? <em>broken heart by the first letter, heh</em> ?. rupanya surat mona itu amat jauh dari apa yang diharapkan oleh <em>play boy</em> kita, karena hanya berisi sepotong kalimat doang bo ! ia kemudian menyodorkan lembar surat yang nyaris kosong itu kepadaku. “tolong jelasin dong apa kata <em>yayangku</em> itu”, pintanya pilu. ternyata surat yang cuma sebaris itu memang berbunyi amat menyakitkan, seperti berikut :</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:4pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">“iqro’ al-jawāb <span> </span>minnī <span> </span>li-risālatik <span> </span>fi ‘s-shofhah <span> </span>al-latī <span>  </span>fīhā <span> </span>risālatuk <span> </span>fi <span> </span>nafsi <span> </span>‘l-kitāb”, mona.</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">( baca balasanku untuk suratmu itu di buku yang sama sesudah surat yang kau contek itu, mona )</span></span></em></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>makanya mas, kalo mau nyontek mbok ya kira-kira dong. akibatnya kan jadi <em>sū-u ‘l-khōtimah</em> gini deh. tapi … jangan dulu <em>down, bro !</em>. rupanya si mona yang cewek mesir itupun memiliki buku yang sama juga buat bahan rujukannya, jadinya kalian <em>draw</em> !<span>  </span>( wow kaya <strong><em><span> </span>al-ahly</em></strong><span>  </span>vs<span>  </span><strong><em>zamalek<span>  </span></em></strong>aja ya )</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(9)<span>  </span>“ do’a<span>  </span>selamat ”<span>  </span>…<span>  </span>yang<span>  </span>di-protes<span>  </span>tuan<span>  </span>rumah<span>   </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:8pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>suatu hari, tetangga sebelah rumah mengundang kami untuk acara selamatan salah seorang puteranya yang baru saja dikhitan. kamipun menyempatkan diri untuk menghadiri kenduri ini bersama kira-kira lima belasan orang tetangga lainnya. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:8pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>acara sederhana ini berjalan cukup khidmat, sampai ketika do’a selamat yang dibacakan oleh seorang sesepuh kampung baru saja sampai pada kalimat “<strong><em>allohumma innā nas-aluka salāmatan <span style="text-decoration:underline;">fi ‘d-dīn</span> </em></strong>…”, tiba-tiba saja sang tuan rumah yang duduk di sebelah si pembaca do’a segera menukasnya dengan setengah berbisik : “<em>pak, yang dikhitan itu <strong><span style="text-decoration:underline;">Pirngadi</span></strong> bukan <strong><span style="text-decoration:underline;">Fidin</span></strong> … !</em>”. merasa ada yang salah, maka do’apun diulang. bunyi do’anyapun berubah menjadi : “<strong><em>allohumma innā nas-aluka salāmatan <span style="text-decoration:underline;">firngadī</span> </em></strong>…”. <em>āmīn … !</em>, sambut seluruh yang hadir termasuk sang tuan rumah yang kini baru tersenyum bahagia karena puteranya sudah di-<strong><em>dungake</em></strong>. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:8pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>rupanya tadi, si tuan rumah kurang merasa sreg dengan isi do’a pak tua. ia mengira yang dido’akan adalah si <strong>Fidin</strong> ( panggilan untuk <strong>Rafidin</strong>, anak keduanya yang masih kecil ) bukan si <strong>Pirngadi</strong>, anak yang hari itu disunat, makanya ia melakukan protes keras. padahal arti do’anya kan sudah bagus seperti ini <em>“ya</em> <em>Allah, kami memohon kepadaMU akan keselamatan <span style="text-decoration:underline;">dalam beragama</span> kami</em> ( <strong><em><span style="text-decoration:underline;">fi ‘d-dīn</span></em></strong> ). oalaah pak…é, pak…é. protes sich protes pak, tetapi do’anya kan jadi kacau begitu !<span>    </span></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(10)<span>   </span>hei<span>  </span>… <span> </span>kaum<span>  </span>lelaki, <span> </span><em>sungguh</em><span>  </span>“ <em>miskiiiin “<span>  </span>…<span>  </span>dech<span>  </span>kamu !</em><span>  </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>             </span>kira-kira hanya tinggal 2 halaman lagi buku yang mengasyikkan ini selesai dibaca, seorang teman yang sedari tadi hanya memperhatikan saja, tiba-tiba bertanya : “<em>bang, memangnya kaum lelaki itu pada miskin semua ya ?</em>” <em>“lelaki mana maksudmu ?”</em>, aku balik bertanya. “<em>itu, di buku yang sedang abang baca, judulnya kan berkata begitu ?</em>” oooh … ?</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>             </span>judul buku itu adalah “<strong><em>miskīn … ’ālamu ‘r-rujūlah</em></strong>” <em>( malangnya dunia lelaki )</em> karya penulis besar mesir, <strong><em>anis manshour</em></strong> di tahun 70-an. dalam buku lawas itu sebenarnya beliau cuma membeberkan fakta tentang betapa <strong><em>malang</em></strong>nya dunia kaum lelaki dibandingkan dengan dunia kaum wanita dan bukan tentang ke<strong><em>miskin</em></strong>an para lelaki. tengok saja tulisnya, <em>sejak</em> di saat manusia masih belum dilahirkanpun ( ketika masih berbentuk sperma ), nasib si <em>“calon lelaki”</em> sudah jauh lebih malang dari pada nasib <em>“si calon wanita” </em>karena umurnya di dalam rahim <strong><em>jauh lebih singkat dan pendek</em></strong>, <em>sampai</em> … dengan nabi adam as. yang harus diusir tuhan dari surga hanya lantaran ingin menyenangkan hati seorang wanita. iya, kan ?</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>             </span>di <em>mesir</em>-pun, nasib kaum wanitanya sama lebih beruntung. seorang mertua perempuan itu jauh lebih ditakuti ketimbang mertua lelaki, bahkan saking begitu sangat dominan dan otoriternya sehingga titahnya kepada sang menantu tak pernah boleh sampai jatuh ke tanah, tulis buku itu. sampai-sampai ada pemeo yang menggambarkan <em>“kegeraman”</em> para menantu lelaki seperti ini : <strong><em>“ law iltaqoitu bi-tsu’bānin wa hamātī fi waqtin wāhid </em></strong><em>(</em> <em>andai aku bertemu dengan <strong><span> </span>ular</strong> <span> </span>dan <span> </span><strong>mertua perempuanku</strong> <span> </span>pada waktu yang bersamaan</em> <em>)</em>,<strong><em> maka yang kupukul <span style="text-decoration:underline;">terlebih dahulu</span> adalah ….… hamātī </em></strong><em>( <strong>mertua perempuanku</strong> )<strong> !” </strong></em>ah … bercanda kamu, mana you berani ? he he he. kasihaaan dech … lo.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>             </span>sang teman yang baru saja sepekan berada di <em>cairo</em> untuk studi inipun lalu manggut-manggut sambil tersenyum mendengar penjelasanku. “<em>kenapa tersenyum ?</em>” tanyaku heran. “ ’<em>nggak apa-apa, cuma agak malu aja karena … ketahuan bégonya. kirain kata-kata <strong>miskīn</strong> itu artinya … <strong>have nothing</strong> alias <strong>kéré</strong></em>,<em> gitu</em> ”. “<em> ‘nggak juga kali, karena ke<strong>miskin</strong>an itu kan memang sebuah ke<strong>malang</strong>an yang perlu di<strong>kasihan</strong>i</em> ”, kataku menghibur. <em>it’s all right, guy ! don’t be so unexcited </em>begitu ach !. baru juga seminggu.</span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(11)<span>   </span>ada<span>  </span><em>“ kutil ”</em><span>  </span>dalam<span>  </span>film<span>  </span>………….. “ <em>fajru<span>  </span>‘l-islām “ ?</em><span>  </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Calibri;"><span style="font-size:small;"><span>         </span>sebelum film kolosal <strong>“<em>ar-risālah“ </em></strong>yang dibintangi oleh<em> anthony quinn</em> muncul<em>,<strong> </strong></em>pernah ada film islami lain yang cukup menyedot perhatian publik, yaitu film</span><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:small;"><strong>“<em>fajru ‘l-islām“ </em></strong>( judulnya diambil dari salah satu “trilogi” kitab sejarah karya <strong><em>prof. ahmad amin</em></strong> : <em>“fajru ‘l-islām“</em>, “<em>dhuha ‘l-islām“ </em>dan<em> </em>“<em>zhuhru ‘l-islām“</em> yang masing-masing terdiri dari 2 jilid )<strong><em>.</em></strong></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>karena penasaran, akupun ikut nonton di bioskop <em>“megaria”</em> jakarta, salah satu bioskop kelas satu waktu itu. film dimulai dengan gambar latar belakang padang pasir, pokok-pokok korma, segerombolan unta dan sekumpulan orang-orang arab badwi menjalani kegiatan hidup keseharian mereka di seputar <em>“perkampungan</em>” tenda-tendanya. penonton masih tenang &#8230; menunggu adegan-adegan berikutnya. </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>tiba-tiba terdengar derap keras langkah kaki kuda yang kian mendekat, amat cepat. lalu muncullah sesosok kuda hitam dengan seorang lelaki gagah berjubah gelap diatasnya berteriak lantang : “<em>hasan <strong>qutil</strong> ! </em></span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em>…. hasan<strong> qutil</strong> ! ….<span>  </span>hasan <strong>qutil</strong> ! ….”. </em>penonton yang sedikit terperangah dan mulai cekikikan karena tidak mengerti makna teriakan tadi terus menunggu teks terjemahan ( subtitle )-nya yang belum juga keluar. kemudian setelah teks terjemahannya : “<em>hasan <strong>dibunuh </strong>! &#8230; hasan <strong>dibunuh </strong>! &#8230; hasan <strong>bunuh </strong>! &#8230;” </em>muncul dan terbaca penonton, barulah cekikikan agak mereda dan komentarpun mulai ramai terdengar : <em>“oalaah, ceritanya hasan <strong>dibunuh</strong> toh ? kirain orang tadi neriakin <strong>kutil</strong>-nya hasan ?</em>”. disitu barulah aku mengerti mengapa tadi mereka pada ber<em>-cekikikan ria</em>, rupanya kata <strong><em>“qutil</em></strong><em>” </em>di film itu difahami sebagai <strong><em>“kutil”</em></strong>-nya mereka. kalau memang benar-benar <strong><em>kutil</em></strong>en, bawa saja ke rshs ( rumah sakit hasan sadikin ) bandung untuk dioperasi bareng manusia akar dan manusia kutil yang satunya lagi ! amit-amit jabang <em>bebe</em> ! <strong><em>na’ūdzu bi-‘llāhi min dzālik !</em></strong><span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;">(12)<span>   </span>antara<span>  </span>sang<span>  </span>ustadz<span>  </span>muda, <span> </span>abdullah<span>  </span>dan<span>  </span>…<span>  </span>abdillah. <span>  </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:6pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span>         </span>setelah tiap-tiap murid menerima hasil ulangan <strong><em>tarikh islam</em></strong> mereka, <strong><em>abdillah,</em></strong><em> </em>seorang murid yang terkenal kritis mengangkat tangannya dan bertanya : “<em>ustadz, mengapa jawaban saya pada pertanyaan isian nomor 5 disalahkan, sedangkan jawaban si <strong>abdullah</strong> dibenarkan, padahal jawaban kami sama ?. </em></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></em></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><em><span>         </span><span> </span></em>pertanyaan nomor 5 berbunyi begini : <em>nama paman nabi yang mengasuh beliau sepeninggal sang kakek adalah ………</em>… . <strong>abdullah</strong> mengisi dengan jawaban <strong>abu tholib </strong>dan <strong>dibenarkan</strong>, sedangkan <strong>abdillah</strong> mengisi dengan jawaban <strong>abi tholib </strong>tetapi <strong>disalahkan. </strong>sang guru muda yang belum genap sebulan mengajar di kelas 1 mts ( madrasah tsanawiyah ) ini, sedikit bingung memecahkan kasus “rumit” ini. menurut dia, nama <strong>abu tholib</strong> dan <strong>abi tholib</strong> itu beda, buktinya di kelas yang diajarnya itu …. nama <strong>abdullah</strong> itu kan juga berbeda dan tidak sama dengan nama <strong>abdillah. </strong><em>ma’qūl <span> </span>wa <span> </span>shohīh, <span> </span>yā<span>  </span>ustādz !</em><strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><span>         </span></strong>ketika kisah ini diceritakan di ruang guru, seorang guru senior menyodorkan secarik kertas berisi sebaris kalimat berbahasa arab berikut : <em>“qul li-<strong>abd<span style="text-decoration:underline;">i</span>llāh</strong>, yā <strong>abd<span style="text-decoration:underline;">a</span>llāh </strong>a-anta haqqon <strong>abd<span style="text-decoration:underline;">u</span>llāh </strong>? wa qul li-<strong>ab<span style="text-decoration:underline;">ī</span> thōlib</strong>, yā <strong>ab<span style="text-decoration:underline;">ā</span> thōlib </strong>a-anta haqqon <strong>ab<span style="text-decoration:underline;">ū</span> thōlib </strong>?”</em>. aduh … mumeeeet dan pusing deh aku ! kita tidak tahu apakah guru muda kita ini mengerti penjelasan guru seniornya tadi atau jangan-jangan malah beliau sudah memberi tambahan nilai bagi si <strong><em>abdillah</em></strong>. syukur deh … kalo gitu !</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=110&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2009/03/17/berbahasa-yang-benar-itu-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bahasamu adalah jati dirimu</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2008/12/07/bahasamu-adalah-jati-dirimu/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2008/12/07/bahasamu-adalah-jati-dirimu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Dec 2008 01:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[TADQIIQ]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/2008/12/07/95/</guid>
		<description><![CDATA[(1)  Kita  sudahi  saja  “pertikaian”  antara  Zaid  dan  ‘Amr  itu   sampai  disini Ungkapan “dhoroba Zaidun ‘Amron” adalah bagaikan sebuah “lagu wajib” yang terus saja didendangkan ( dari masa ke masa, hingga saat ini ) oleh para pengajar bahasa arab untuk contoh susunan “jumlah fi‘liyyah” ( verbal clause ) atau untuk contoh posisi “fā‘il / maf’ūl” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=95&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>(1)  Kita  sudahi  saja  “pertikaian”  antara  Zaid  dan  ‘Amr  itu   sampai  disini</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ungkapan “<strong>dhoroba Zaidun ‘Amron</strong>” adalah bagaikan sebuah “lagu wajib” yang terus saja didendangkan ( dari masa ke masa, hingga saat ini ) oleh para pengajar bahasa arab untuk contoh susunan “<strong>jumlah fi‘liyyah</strong>” ( <em>verbal</em> <em>clause</em> ) atau untuk contoh posisi “<strong>fā‘il </strong>/<strong> maf’ūl</strong>” ( <em>subject</em> / <em>object</em> ) dalam kalimat. Dan para muridpun biasanya lalu manggut-manggut sebagai tanda mengerti, yang kemudian ‘pasti’ akan menggunakan contoh yang sama dalam ulangan/ujian mereka atau bahkan kelak ketika mereka mengajar. Semua ini sebenarnya sih sah-sah saja, cuma … seperti ada unsur KDRTnya ( Kekerasan Diantara Rekan dan Tetangga ).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kasihan kali si <strong>‘Amr</strong> itu bah, selalu saja jadi penderita. Kata orang, posisi si <strong>Zaid</strong> dan si <strong>‘Amr</strong> sebagai “<strong>fā‘il</strong>/<strong>maf’ūl</strong>” disitu tak mungkin kita balik atau pertukarkan, karena si <strong>‘Amr</strong> itu tubuhnya kecil dan kurus sehingga tidak mungkin berani memukul si <strong>Zaid </strong>yang besar dan kekar itu. OK lah kalau memang begitu, tetapi apa harus terus dengan cara pukul-pukulan dan tak ada modus lain lagi yang lebih insani ?. Mbok yo sekali-sekali si <strong>Zaid </strong>itu<strong> </strong>ya apa <strong> </strong><em>menolong,</em> ya apa<em> memboncengi </em>atau sekalian <em> men-traktir </em>si <strong>‘Amr </strong><em>ke mall </em> gitu ! Yo kan apik to ?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>(2)  I’ll  “<em>look for</em>”  someone  who  should  “<em>look after</em>”  you,  bebe</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ujaran diatas itu keren ya ?. Eit … nanti dulu. Itu baru satu dari sekian banyak contoh pemakaian “<em>compound verb</em>” yang biasa kita dapatkan di awal-awal belajar Bahasa Inggris dulu. Tetapi dalam belajar Bahasa Arab, “<em>compound verb</em>” / <strong>al-fi’l al-murokkab </strong>(?) &#8211; kalaupun istilah ini memang ada *) &#8211; yang selalu “dipersembahkan” oleh para pengajar adalah contoh klasik satu-satunya ini : “<strong>roghiba fī </strong>dan <strong> roghiba ‘an</strong>”, <em>bas we mā fisy tāni</em>. Iya kan apa iya kah … ?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Padahal “<em>compound verb</em>” itu kan <strong><em>bejibun</em></strong> banyaknya dan penggunaannya dalam rangka berbahasa yang baik, benar dan indah adalah sebuah kemutlakan yang tak terbantahkan. Kalau kita tidak menguasainya, bisa-bisa kita bisa bisu alias bisa berbahasa sebisanya doang. Padahal pagi-pagi sekali, baru pada <strong><em>ayat ke-3, 7, 15 dan 17</em></strong> saja dari <strong><em>surat al-Baqoroh</em></strong>, al-Qur’an sudah menyuguhi kita dengan contoh-contoh manisnya : “al-ladzīna <strong><em>yu’minūna bi</em> </strong>‘l-ghoib …”, “<strong><em>khotama</em></strong>-‘llōhu<strong> <em>‘alā</em></strong> qulūbihim …”, “Allōhu <strong><em>yastahzi-u  bi</em></strong>-him …”, “… <strong><em>dzahaba</em></strong>-‘llōhu<strong> <em>bi</em></strong>-nūrihim …”. Berikutnya coba kita tengok contoh-contoh ini :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>qodaro ‘alā</strong> &#8211; ( ﹻ<strong> </strong><strong>qudroh</strong>, <strong>maqduroh, maqdaroh, maqdiroh</strong> ),<strong> roja’a ‘an</strong> (<strong> </strong><strong>ﹻ</strong><strong> rujū’</strong> ), <strong>hāla dūna</strong> ( <strong>ﹹ</strong> <strong>hailūlah</strong> ),  <strong>asfaro ‘an</strong>, <strong>ihtāja ilā</strong>,<strong> a’rodho</strong> <strong>‘an</strong>, dan <strong>ittafaqo</strong> <strong>‘alā</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan </strong>:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Compound verb</em>” adalah <strong><em>gabungan</em></strong><em> sebuah</em> <strong>kata kerja</strong> ( <em>verb / fi’l</em> ) <em>dengan sebuah</em> <strong>kata depan</strong> ( <em>preposition</em> / <em>harf al-jarr </em>) <em>sebagai <strong>satu kesatuan</strong> yang mempunyai sebuah <strong>arti</strong> <strong>tertentu</strong>,</em> (<em> <strong>kata</strong> <strong>depan</strong> disini </em>tidak punya makna harfiah<em> </em>). <strong>Makna</strong> dari “<em>compound verb</em>” ini akan <strong>berubah</strong> bila <strong>kata</strong> <strong>depan</strong> pasangannya <strong>ditukar</strong>. Seperti pada “<strong>look</strong> for” ( mencari ) dan “<strong>look</strong> after” ( menjaga ) atau “<strong>roghiba </strong>fī” ( suka )<strong> </strong>dan<strong> “roghiba </strong>‘an”  ( benci ). Jadi … sebuah kemutlakan, bukan ?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mohon jangan sampai <strong>rancu </strong>dengan <strong>kata kerja</strong> “<em>yang diikuti”</em> oleh<em> </em><strong>kata depan</strong> “<strong>murni</strong>“ ( yang <em>berfungsi </em>untuk menunjukkan<em> </em><strong>keterangan tempat<em> </em></strong>semata ), seperti pada : <strong><em>dzahaba</em></strong> <strong><em><span style="text-decoration:underline;">il</span></em><span style="text-decoration:underline;">ā</span>, <em>jā-a <span style="text-decoration:underline;">min</span></em> </strong>( <em>to go <span style="text-decoration:underline;">to</span>, to come <span style="text-decoration:underline;">from</span> ) dan seterusnya. </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*) Dalam Bahasa Arab,<strong><em> </em></strong>model “<em>compound verb</em>” ini memang ada juga tergambar secara sekilas dalam pembahasan “<strong>ta’diyat al-fi’l bi-harf al-jarr” </strong>( <em>making a transitive verb by adding a preposition</em> )<strong> </strong>( lihat kitab <strong>an-Nāhw al-Wāfī</strong>, <strong>Abbās Hasan</strong>, Dār al-Ma’ārif, jilid 2, hal. 159, catatan kaki 1 ).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Tugas kita </strong>:</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam belajar atau mengajarkan bab <strong>fi’l</strong> ( kata kerja/verb ), materi “<em>compound verb</em>” ini tidak boleh diperlakukan “<strong><em>seramah </em></strong>dan<strong><em> seremeh</em></strong>” seperti memperlakukan “<em>single verb</em>” ( misalnya  :  <strong>akala</strong>, <strong>sajada</strong> atau <strong>qotala</strong> ).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(3)  Wahai  “al-fi’l  ats-tsulātsī  al-mujarrod”,  mampukah  aku  menggaulimu  dengan  adil  ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ketika belajar Bahasa Inggris, ada satu kegiatan yang paling amat tidak diminati oleh banyak pelajar, yaitu mengahafalkan “<em>irregular verb</em>” yang jumlahnya agak lumayan … buaaanyak. didalam belajar atau mengajarkan Bahasa Arabpun, sebenarnya ada satu kegiatan yang mestinya diterapkan hukum yang sama seperti ketika mengajarkan “<em>irregular verb</em>”, yaitu “<strong>keharusan menghafalkan</strong>” bab <strong>tash-rīf</strong><em> </em>( <em>pengubahan bentuk kata</em> ) dari <strong>fi’l mādhi</strong> ke <strong>fi’l mudhōri’ </strong>serta<strong> </strong><em>bentuk</em> <strong>mashdar </strong>dari spesies langka <strong>“al-fi’l  ats-tsulātsī  al-mujarrod”</strong> yang cuma enam bab itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan </strong>:</p>
<p style="text-align:justify;">Dari segudang materi pelajaran <strong>‘ilm as-shorf</strong> ( <em>morphology</em> / <em>ilmu bentuk kata</em> ) yang konon amat menyeramkan itu, sebenarnya<strong> </strong><em>hanya<strong> </strong>bab</em> yang membahas<strong> </strong><em>perubahan bentuk kata</em> dari <strong>fi’l mādhi</strong> ke <strong>fi’l<span style="text-decoration:underline;"> </span>mudhōri’ </strong>serta<strong> </strong><em>bentuk</em> <strong>mashdar </strong>dari <strong>“al-fi’l  ats-tsulātsī  al-mujarrod”</strong> <em>saja</em> yang berpola <strong><em>irregular</em></strong> dan <strong><em>harus dihafalkan</em></strong>, jadi cukup sederhana dan tidak ada yang harus “dipertakutkan”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Tugas kita </strong>:</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam belajar atau mengajarkan bab <em>pengubahan bentuk kata</em> dari <strong>fi’l mādhi</strong> ke <strong>fi’l mudhōri’ </strong>serta<strong> </strong><em>bentuk</em> <strong>mashdar </strong>dari <strong>“al-fi’l  ats-tsulātsī  al-mujarrod”</strong> yang <strong><em>cuma enam bab</em></strong> itu, kita <em>harus rela menghafalnya</em> di luar kepala, sama halnya seperti saat kita belajar atau mengajarkan “<em>irregular verb</em>”nya Bahasa Inggris. Jangan lupa kalau belajar sendiri, kita harus ditemani oleh sebuah Kamus Arab yang agak mumpuni untuk bahan rujukan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Caranya :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Lihat contoh seperti yang dibeberkan pada tulisan terdahulu saat membicarakan “<em>compound verb</em>”, yaitu <strong>setiap kali </strong>kita membaca / menghafalkan sebuah <strong>fi’l mādhi</strong> dari <strong>“al-fi’l  ats-tsulātsī  al-mujarrod”</strong> maka <strong>wajib pulalah</strong> pada saat itu, kita baca / hafalkan<strong> fi’l mudhōri’</strong> serta<strong> </strong><em>bentuk</em> <strong>mashdar</strong>-nya sekaligus. wajib, musti dan kudu, tidak boleh tidak, seperti berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">1. <strong>na<span style="text-decoration:underline;">zho</span>ro</strong> <strong>ﹹ</strong> <strong>nazhor, manzhor</strong> =<strong> </strong> hafalkan begini  :  <strong>na<span style="text-decoration:underline;">zho</span>ro</strong> &#8211; <strong>yan<span style="text-decoration:underline;">zhu</span>ru, </strong><strong>→ </strong><strong> nazhor</strong> wa <strong> manzhor</strong></p>
<p style="text-align:justify;">2. <strong>dza<span style="text-decoration:underline;">ha</span>ba </strong> <strong>ﹷ</strong><strong> </strong><strong>dzahāb, madz-hab</strong> <strong> </strong>=<strong> </strong> hafalkan begini  :  <strong>dza<span style="text-decoration:underline;">ha</span>ba </strong>-<strong> yadz-<span style="text-decoration:underline;">ha</span>bu, </strong><strong>→ </strong><strong></strong><strong> dzahāb</strong> wa <strong> madz-hab</strong></p>
<p style="text-align:justify;">3. <strong>ro<span style="text-decoration:underline;">ja</span>’a </strong><strong>ﹻ</strong><strong> </strong><strong> rujū’</strong> <strong> </strong>=<strong> </strong> hafalkan begini  :  <strong>ro<span style="text-decoration:underline;">ja</span>’a </strong>-<strong> yar<span style="text-decoration:underline;">ji</span>’u, </strong><strong>→</strong><strong> rujū’ </strong></p>
<p style="text-align:justify;">4. <strong>fa<span style="text-decoration:underline;">hi</span>ma </strong><strong>ﹷ</strong><strong> fahm, faham </strong>=<strong> </strong> hafalkan begini  :  <strong>fa<span style="text-decoration:underline;">hi</span>ma </strong>–<strong> yaf<span style="text-decoration:underline;">ha</span>mu, </strong><strong>→</strong><strong> fahm </strong>wa <strong> faham </strong></p>
<p style="text-align:justify;">5. <strong>ha<span style="text-decoration:underline;">si</span>ba </strong><strong>ﹻ</strong><strong> hisbān, mahsabah </strong>=<strong> </strong> hafalkan begini  :  <strong>ha<span style="text-decoration:underline;">si</span>ba </strong>-<strong> yah<span style="text-decoration:underline;">si</span>bu, </strong><strong>→ </strong><strong></strong><strong> hisbān </strong>wa <strong> mahsabah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">6. <strong>‘a<span style="text-decoration:underline;">zhu</span>ma</strong> <strong>ﹹ</strong><strong> </strong><strong>‘izhōm, ‘azhomah </strong>=<strong> </strong> hafalkan begini  :  <strong>‘a<span style="text-decoration:underline;">zhu</span>ma</strong> &#8211; <strong>ya’<span style="text-decoration:underline;">zhu</span>mu, </strong><strong>→ </strong><strong></strong><strong> ‘izhōm </strong>wa <strong> ‘azhomah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Eit … kenapa mengernyitkan dahi begitu, muuuu…met ya ? Coba dulu, pasti dech ketagihan. Selamat mencoba <em>et Bon Appetite</em> !</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=95&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2008/12/07/bahasamu-adalah-jati-dirimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moso&#8217; Paling Super sih ?</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2008/11/17/81/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2008/11/17/81/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 06:37:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[AHRUF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[( 4 )   Apa  ada  sesuatu  yang  “paling akbar” … ? “Bunga melati itu cantik, sedangkan teratai lebih cantik, tetapi mawar paling cantik”. Hanya dengan menambahkan kata-kata “lebih” atau “paling” didepan sebuah kata sifat, kita sudah dapat menggambarkan tingkat kecantikan ketiga bunga tadi dalam Bahasa Indonesia. Awalan “ter+…” kadang digunakan untuk menggantikan kata-kata “paling” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=81&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-size:12pt;"> </span></div>
<p><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>( 4 )   Apa  ada  sesuatu  yang  “paling akbar” … ? </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Bunga melati itu <em>cantik</em>, sedangkan teratai <strong>lebih</strong> <em>cantik</em>, tetapi mawar <strong>paling</strong> <em>cantik</em>”<em>.</em> Hanya dengan menambahkan kata-kata “<strong>lebih”</strong> atau “<strong>paling”</strong> didepan sebuah kata sifat, kita sudah dapat menggambarkan tingkat <em>kecantikan</em> ketiga bunga tadi dalam Bahasa Indonesia. Awalan “<strong>ter</strong>+<strong>…</strong>” kadang<strong> </strong>digunakan untuk menggantikan kata-kata “<strong>paling” </strong>seperti dalam kata <strong>ter</strong><em>cantik</em>. Begitu juga halnya dengan Bahasa Inggris, cukup hanya dengan menambahkan “…+<strong>er</strong> / <strong>more</strong> …” atau “…+<strong>est</strong> / <strong>most</strong> …” pada sebuah <em>adjective</em>, maka jadilah bentuk <em>comparative</em> dan <em>superlative</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dalam Bahasa Arab, kita tidak diminta untuk menambahkan sesuatu pada kata sifat, melainkan harus merubah kata sifat itu sendiri kedalam bentuk khusus yang bernama “<strong>ismu ‘t-tafdhīl</strong>” ( <em>noun of preference / elative</em> ) berpola : <strong>a</strong>-<strong>f</strong>-<strong>’a</strong>-<strong>lu</strong> seperti : <strong>a</strong>-<strong>k</strong>-<strong>ba</strong>-<strong>ru / akbar </strong>( dari akar kata <strong>ka-bu-ro </strong>yang berarti :<strong> besar </strong>). Yang istimewa adalah “<strong>ismu ‘t-tafdhīl</strong>” yang hanya satu pola ini justru digunakan untuk <strong>dua</strong> pemakaian : bentuk <em>comparative</em> dan <em>superlative </em>sekaligus. Artinya : kata-kata <strong>akbar </strong>itu dapat diterjemahkan menjadi “<em>lebih</em> atau <em>paling</em> <strong>besar</strong>“ tergantung pada susunan kalimatnya ( <em>siyāqu ‘l-kalām</em> ).</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata <strong>akbar </strong>yang berarti : “<em>lebih</em> <strong>besar</strong>“ atau “<em>paling</em> <strong>besar</strong>“ setelah terserap ke dalam Bahasa Indonesia justru mengalami <em>pergeseran makna</em> yang cukup signifikan. Cermati ungkapan ini : “Rapat / pertunjukan / konser <strong>paling akbar</strong> ini terselenggara atas …. “ dst. Jadi apa pula maunya kalimat ini … ?  Sebentar, satu lagi menunggu dibawah … !</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>4.a. Kedua  sahabat  “karib”  itu  ingin  hubungan  mereka  bisa  “lebih  akrab”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ungkapan diatas yang menjadi judul tulisan ini bikin kita garuk-garuk kepala. Kenapa tidak …, karena kata <strong>akrab</strong> ( dari kata <strong>qo</strong>-<strong>ru</strong>-<strong>ba,</strong> kata sifatnya adalah <strong>qorīb</strong> artinya : <strong>dekat </strong>) adalah bentuk “<strong>ismu ‘t-tafdhīl</strong>” yang disini bermakna <em>comparative,</em> artinya adalah : <strong>lebih dekat</strong>. Jadi, mengapa tidak ditulis saja … <strong><em>ingin hubungan mereka bisa</em></strong><em> “<strong>lebih karib”</strong></em>, bukankah kata <strong>karib</strong> sudah jadi Bahasa Indonesia ?. Oalaah, bingung … bingung.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>4.b. “Syair-syair  penyair”  muda  itu  sangat  menggugah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Buat yang tidak atau belum <strong>akrab</strong> dengan Bahasa Arab, judul tulisan diatas mungkin akan terbaca atau terdengar biasa saja. Tetapi buat mereka yang mengigaunya saja dengan Bahasa Arab, wah … bisa bikin telinga jadi gatal. <em>Pourquoi</em> … ?</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tulisan sebelumnya telah disinggung bahwa sebuah kata yang terserap ke dalam bahasa lain, bisa saja mengalami <em>pergeseran makna</em> yang kadang sangat mengganggu, terutama bila kata-kata itu dibaca atau didengar oleh mereka yang telah terbiasa akrab dengan makna kata-kata itu pada bahasa aslinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata ”<strong>syair</strong>” dalam Bahasa Arab termasuk kategori ”<strong>ismu ‘l-fā’il</strong>” ( <em>nomen agentis / active participle</em> ) yang menunjukkan arti <em>pelaku </em>atau<em> orang yang melakukan sesuatu</em>. Jadi kata-kata ”<strong>syair</strong>” ( <strong>syā’ir</strong> ) yang berakar pada kata <strong>sya-‘a-ro </strong>( <em>membuat puisi</em> ) artinya adalah “<em>pembuat puisi” ( </em><strong>penyair</strong><em> ),</em> sedang kata-kata <em>“puisi”</em> itu sendiri Bahasa Arabnya adalah ”<strong>syi’r</strong>”. Jadi judul tulisan ini kalau mau di-arab-kan menjadi <strong>“Syi’r-syi’r </strong>( jama’nya :<strong> asy‘ār </strong>)<strong> syā’ir” muda itu sangat menggugah.</strong> Hayo … bingung kan ? Makanya … telinga ini jadi gatal.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=81&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2008/11/17/81/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Serap-menyerap Kata</title>
		<link>http://benzein4.wordpress.com/2008/11/16/63/</link>
		<comments>http://benzein4.wordpress.com/2008/11/16/63/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 02:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ibn Zein</dc:creator>
				<category><![CDATA[AHRUF]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://benzein4.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[( 3 )   Menuntut  “ilmu”  itu  “fardu”  lho … Bersamaan dengan masuknya agama Islam ( dengan al-Qur’an dan as-Sunnah yang berbahasa Arab sebagai sumber hukumnya ) ke Indonesia, maka mulailah kata-kata Bahasa Arab terserap kedalam Bahasa Indonesia ( pada awalnya secara tidak sistimatis ), … tak terbilang banyaknya. Maka kata-kata semisal : azab, khilaf dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=63&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-size:12pt;"> </span></div>
<p><span style="font-size:12pt;"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>( 3 )   Menuntut  “ilmu”  itu  “fardu”  lho …</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Bersamaan dengan masuknya agama Islam ( dengan al-Qur’an dan as-Sunnah yang berbahasa Arab sebagai sumber hukumnya ) ke Indonesia, maka mulailah kata-kata Bahasa Arab <strong><em>terserap</em></strong> kedalam Bahasa Indonesia ( pada awalnya secara tidak sistimatis ), … tak terbilang banyaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Maka kata-kata semisal : <strong>azab, khilaf </strong>dan<strong> ikhlas,</strong> lalu … <strong>kiamat, rahmat </strong>dan<strong> jum’at,</strong> kemudian … <strong>ilmu, waktu</strong> dan <strong>fardu</strong> mulai ramai digunakan orang dalam keseharian berbahasa mereka. Tapi nanti dulu, cermatilah sembilan <strong><em>kata serapan</em></strong> yang saya kelompokkan menjadi tiga itu. Ada yang aneh … ? Tidak, itulah hasil dari sistimatika <strong><em>penyerapan</em></strong> (?) yang telah tercipta.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Pedoman umum </em>: Sebuah kata Bahasa Arab biasanya diucapkan dengan cara mematikan bunyi huruf akhirnya seperti pada bacaan <strong>waqf</strong>. Maka kata-kata <strong>azābun, salāmun </strong>dan<strong> rohmatun </strong>diucapkan sebagai : <strong>azāb, salām </strong>dan<strong> rohmah</strong>. Pola inilah yang kemudian digunakan untuk menyerap kata-kata Bahasa Arab diatas dengan penyesuaian disana-sini. Lalu jadilah seperti berikut : <strong>azab, salam </strong>dan<strong> rahmat</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kata-kata yang diserap itu dikelompokkan menjadi 3 ( tiga ).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelompok pertama</span></strong> : Kata-kata <em>yang berhuruf akhir bukan </em><strong>hā’ ( tā’ marbūthoh ). </strong>*)<strong> </strong>Kata-kata ini dilafalkan dan ditulis dengan mematikan ( memberi harakah <strong>sukun</strong> pada ) huruf akhirnya seperti pada bacaan <strong>waqf</strong> dalam <strong>ilmu tajwid</strong>, contohnya adalah kata-kata <strong>azab, khilaf </strong>dan<strong> ikhlas </strong>diatas.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">*) Sebagian ahli menyebut <strong>hā’ </strong>( <strong>ﺓ</strong> / <strong>ﺔ </strong>) ini sebagai : <strong>tā’ at-ta’nīts al-mutaharrikah al-muta’akh-khiroh </strong>atau<strong> hā’ at-ta’nīts </strong>( lihat kitab <strong>an-Nāhw al-Wāfī</strong>, <strong>Abbās Hasan</strong>, Dār al-Ma’ārif, jilid 1, hal. 50, catatan kaki 1 ). Di kita, orang lebih mengenalnya dengan <strong>tā’ marbūthoh </strong>atau<strong> tā’u ‘l-muannats.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelompok kedua</span></strong> : Kata-kata <em>yang berhuruf akhir </em><strong>hā’ ( tā’ marbūthoh ). </strong>Kata-kata ini dilafalkan dan ditulis dengan merubah huruf akhir <strong>hā’ ( tā’ marbūthoh ) </strong>itu<strong> </strong>menjadi<strong> t</strong>, seperti pada kata-kata <strong>kiamat, rahmat </strong>dan<strong> jum’at </strong>diatas.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Untuk yang ini saya malah <em>lebih cenderung</em> untuk mengganti huruf akhir <strong>hā’ ( tā’ marbūthoh ) </strong>itu<strong> </strong>menjadi<strong> h</strong>, sehingga menjadi <strong>kiamah, rahmah </strong>dan<strong> jum’ah, </strong>yang sinkron dengan hukum bacaan <strong>waqf</strong>. Dan yang aneh malah justru pola terakhir ini <strong><em>disahkan</em></strong> untuk kata-kata semisal :  <strong>fitrah, sedekah </strong>dan<strong> umroh</strong>. Atau barang kali karena kata-kata ini termasuk dalam koridor “terminologi agama” ?. ( Akan ada pembahasan lebih lanjut pada tulisan bertajuk <strong><em>“Ayah-ayah Cinta”</em></strong>, in syā-a ‘llōh )</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelompok ketiga</span></strong> : Kata-kata <em>yang dua huruf akhirnya adalah </em><strong>konsonan</strong>, seperti<strong> ‘ilm, waqt</strong> dan <strong>fard. </strong>Mungkin karena secara fonetis kata-kata ini <strong>sulit dilafalkan</strong> oleh lidah kita dan Bahasa Indonesiapun tidak mengenal pola ini, maka diambillah kata-kata aslinya secara utuh ( lengkap dengan <strong>dhommah / dhommatain</strong>-nya ) sebagai kata serapan yang baku … <em>et le voilá</em> <em>!</em> Jadilah : <strong>ilmu, waktu</strong> dan <strong>fardu</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Untuk yang ini saya malah punya <strong>tiga catatan</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">1. Kalaulah kata-kata seperti <strong>fard</strong> bisa menjadi <strong>fardu </strong>dan seterusnya<strong>,</strong> lalu bagaimana dengan kata-kata : <strong>aqd, makr </strong>dan <strong>sobr </strong>yang berpola sama.<strong> </strong>Mengapa yang muncul malah : <strong>akad, makar </strong>dan<strong> sabar </strong>bukannya<strong> akdu, makru </strong>dan<strong> sobru </strong>? Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">2. Saya jadi ingat dan kasihan pada seorang teman yang telah menjadi korban dari kata-kata <strong>ilmu</strong> ini. Ceritanya begini : bagaikan seorang orator, tokoh kita yang ketua osis ini dalam pidato perpisahan sekolahnya menerangkan tentang pentingnya ilmu. Dengan lantang dan fasihnya ia menukil hadits (?) Nabi SAW. sbb. : <em>“Man arōda ‘d-dun-yā fa ‘alaihi bi ‘l-‘<strong>ilmu,</strong> wa man arōda ‘l-ākhirota fa ‘alaihi bi ‘l-‘<strong>ilmu</strong>, wa man arōda-humā fa ‘alaihi bi ‘l-‘<strong>ilmu</strong>”</em>. Seluruh hadirinpun bertepuk tangan, riuh sekali. Teman yang mengundang terheran-heran melihat saya hanya tersenyum kecut. Kenapa … ada yang aneh ? Ah tidak, cuma heran pada kata-kata<strong> ilmu</strong> itu saja kok, jawabku mengelak.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kasihan singa podium kita ini, … mungkin terjemahan potongan hadits yang berbunyi :<em> “haruslah dengan <strong>ilmu”</strong></em> itu agak mengacaukan memory-nya, sehingga sebanyak tiga kali ia mengucapkan “<em>fa ‘alaihi bi ‘l-‘<strong>ilmu</strong>”</em> dengan keliru tanpa menyadarinya barang sedikit. Memangnya ada yang salah ? ya … iya dong. Mestinya ia mengucapkannya begini : “<em>fa ‘alaihi bi ‘l-‘<strong>ilmi</strong>” </em>atau “<em>fa ‘alaihi bi ‘l-‘<strong>ilm</strong>” </em>baru benar. Sumpah, ini benar-benar terjadi puluhan tahun yang lalu, bukan cerita fiksi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">3. Dulu saya pernah mengganggu seorang teman yang guru bahasa arab. buku “<strong>ilmu nahwu</strong>” miliknya yang menggunakan Bahasa Indonesia, judulnya saya coret dengan kapur tulis. Ketika ia protes dengan amat marah, saya katakan bahwa judul bukunya memang salah. Ia tidak terima dan merasa tak ada yang salah. Lalu di atas secarik kertas saya buat sebuah tulisan berhuruf arab yang transkripnya begini : “ <strong>ilmu ‘n-nahwi</strong> “. Setelah membaca iapun tersenyum kecil dan segera berlalu dengan agak malu, hi..hi..hi. <em>What’s the difference ?</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/benzein4.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/benzein4.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/benzein4.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/benzein4.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/benzein4.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/benzein4.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/benzein4.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/benzein4.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/benzein4.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/benzein4.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/benzein4.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/benzein4.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/benzein4.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/benzein4.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=benzein4.wordpress.com&amp;blog=5435976&amp;post=63&amp;subd=benzein4&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://benzein4.wordpress.com/2008/11/16/63/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5b4284747017a3af382a0fd82a0cb59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ibn Zein</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
